Senin, 02 Oktober 2017

Makalah Tafsir Tematik Ibadah Taharah




PENDAHULUAN
Kebersihan merupakan satu dari berbagai unsur pokok ajaran Islam yang mencakup akidah, syariah dan muamalah, dimana unsur-unsur itu saling berkaitan dan dimaknai secara komprehensif. Kebersihan dalam islam tidak terbatas pada lahiriah semata yang berkaitan dengan kesehatan jasmaniah, namun dapat dilihat pula dari aspek maqasidusy-syari`ah, yaitu daruriyyah, hajiyyah dan tahsiniyyah.
Al-Qur`an yang menjadi rujukan dalam agama islam menerangkan bergitu pentingnya kebersihan bahkan bukan hanya kebersihan lahiriah saja namun juga kebersihan batiniah. Begitu banyak ayat-ayta yang menerangkan perintah kebersihan dari memebersihkan badan, pakaian dan sampai pada lingkungan yang dari semu itu adalah Ibadah. Begitu juga perintah membersihkan hati dari sifat-sifat yang dapar merusak dan mengotori hati.
Oleh karena itulah penting bagi kita untuk mengetahui bagaimana Al-Qur`an mengungkap kebersihan ini. Apakah itu kebersiahan yang dinginkan Al-Qur`an? Bagaiman Al-Qur`an menyikapi kebersihan? Siapakah yang dianggap sudah bersih menurut Al-Qur`an itu?

PEMBAHASAN

A.    Pengertian taharah
Taharah secara bahasa adalah ungkapat kebersihan, secara ilmu syari`adalah ungkapan dari membersihakan bagaian tertentu dengan tatacara yang telah ditentukan.[1]
Taharah secara bahasa bersih dan suci dari kotoran secara lahir maupun batin.Taharah secara syari` menghilangkan hadas dengan air atau tanah yang suci menyucikan, serta menghilangkan najis dan kotoran.[2]
Adapun tahrah terbagi menjadi dua yaitu pertama, taharah batiniah maknawiyah adalah kebersihan dari syirik dan maksiat, dengan cara bertauhid dan mengerjakan amal soleh. Kedua, kebersihan dari hadas dan najis.
B.     Istilah-istilah yang di gunakan dalam konteks kebesihan
Dari penjelasan di atas taharah itu terbagi menjadi dua, begitu juga dalam Al, Qur`an dan Sunah Rasulullah saw., terdapat banyak nas-nas yang menerangkan tentang taharah  ditinjau dari dua aspek; hissiyah (lahiriah) dan ma`nawiyah (batiniah). Istialah taharah bermakna luas, bukan hanya berarti bersih atau suci secara lahiriah dari kotor, najis, bahkan dari penyakit yang disebabkan oleh perzinahan atau liwat yang biasa disebut dalam Al-Qur`an dengan istilah Khaba`is atau rijsun, tetapi bermakna juga bersih dan suci dari perbuatan tercela, munkar, zalim, bahkan syirik. Kosakata taharah disebut dengan berbagai macam derivasinya sebanyak 31 kali, tazkiyah sebanyak 60 kali, khabisah 16 kali dan rijsun 10 kali yang berkorelasi pula dengan kesucian, baik berkonotasi hissiyah maupun ma`nawiyah.[3]
            Dalam Al-Qur`an atau Hadis terdapat tiga macam kosakata yang digunakan berkaitan dengan kebersihan, yaitu taharah, tazkiyah dan nazafah. Term taharah lebih luas dari pada term tazkiyah dan nazafah, term nazafah berkenaan dengan kebersihan dalam kontes lahir/fisik semata. Sedengakan term tazkiyah yang memebentuk frasa tazkiyah al-nafs, berkaitan dengan kesucian jiwa (QS. Al-Baqarah [2]: 129, An-Nisa [4]: 49, Al-Lail [92]: 18, Al-Bayyinah [98]: 5). Kedua term ini berbeda dengan term taharah yang lebih luas yang bermakan  kebersihan secara hissiyah dan ma`anawiyah. Namun demikian, baik taharah maupun nazafah sama-sama diperintahkan dalam Islam bahkan menjadi bagian dari iman, yang terekam dalam hadis:
الطهور شطر الأيمان (رواه مسلم عن أبي مالك الأشعري)
Kesucian sebagian dari iman. (HR. Muslim dari Abu Malik al Asy`ari)
At-Tuhur pada hadis ini dipahami Al-Gazali (450 – 505 H) sebagai kesucian lahir/badan dengan menggunakan air kesucian batin dari berbagai kotoran. Dari sini kemudaian Al-Gazali memperkenalkan empat tingkatan taharah: Mensucikan tubuh dari hadas dan kotoran, membersihakan anggota tubuh dari dosa, membersihkan hari dari akhlak tercela, dan membersihkan sirr dari selain Allah.
            Berkenaan dengan pentingnya nazafah, dapat dilihat dari hadis berikut:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ يُحِبُّ الطَّيِّبَ ، نَظِيفٌ يُحِبُّ النَّظَافَةَ ، كَرِيمٌ يُحِبُّ الكَرَمَ ، جَوَادٌ يُحِبُّ الجُودَ ، فَنَظِّفُوا ، ، أَفْنِيَتَكُمْ وَلاَ تَشَبَّهُوا بِاليَهُودِ (رواه الترمذي عن أبي هريره)
“Sesungguhnya Allah itu baik dan menyukai kebaikan, besih dan menyukai kebersihan, mulia dan menyukai kemuliaan, pemurah dan meyukai kemurahan. Karena itu, bersihkanlah halaman kalian dan janganlah kalian menyerupai orang yahudi.” (HR. At-Tirmizi dari Abu Hurairah)
            Melalui kedua hadis ini kita dapat memahami mengapa kebersihan itu sangat penting dan mendapat perhatian yang cukup besar selain bagian dari iman juga karena Allah itu suci dan menyukai kesucian dan hanya dapat didekati oleh orang yang suci. Dengan demikian, bersuci merupakan sutau tindakan yang amat di cintai Allah swt.[4]

C.    Term-term taharah dalam Al-Qur`an
Kata taharah dan turunannya diulang sebanyak 31 kata dalam Al-Qur`an. Redaksi yang digunakan adalah mutahharah/mutahharun (Al-Baqarah [2]: 25, Ali-`Imran [3]: 15, An-Nisa [4]: 57, Al-Waqi`ah [57]: 79, `Abasa [80]: 14, dan Al-Bayyinah [98]: 2); tahhira/tahhir (Al-Baqarah [2]: 125, Al-Hajj [22]: 26, Al-Mudassir [74]:4 ); yathurna (Al-Baqarah [2]: 222), tatahharna (Al-Baqarah [2]: 222), mutatahhirun (Al-Baqarah [2]: 222); athar (Al-Baqarah [2]: 223, Hud [11]: 78, Al-Ahzab [33]: 53, Al-Mujadilah [58]: 12); tahhara (Al-`Imran [3]: 42); Mutahhirun (Ali-`Imran [3]: 42); ittaharu (Al-Ma`idah [5]: 6); yutahhiru (Al-Ma`idah [5]: 41, Al-Anfal [8]: 11, Al-Ahzab [33]: 33); yatatahharu / yatatahharun (Al-A`raf [7]: 82, At-Taubah [9]: 108, An-Naml [27]: 56); tuhahhiru (At-Taubah [9]: 103); dan tahur (Al-Furqan [25]:48 , Al-Insan [76]: 21).
Dari semua term taharah yang disajikan Al-Qur`an kepada Manusia yang bermakna hissiyah dan ma`nawiyah, tentu memiliki pebahasan-pembahasan tertentu kadang lebih menkankan pada makna hissiyah dan atau bankan kepada ma`nawiyah, seperti perintah bersuci sebelem shalat pada QS. Al-Ma`idah [5]: 6, atau mensucikan pakaian yang terekam dalam QS. Al-Muddassir [74]: 4, yang dimaknai secara hissiyah dan atau ma`nawiyah oleh para mufasir.[5]
Kebersihan Ma`nawiyah (batiniyah)
Penjelasan taharah telah panjang lebar dijelaskan diatas yaitu, taharah secara ma`nawiyah dan hissiyah, lalu bagaimana Al-Qur`an menanggapi kebersihan ma`nawiyah yang banyak menggunakan kata tazkiyyah yang kita kenal dengan kata tazkiyatun-nafs. Berikut beberapa makna tazkiyyatun-nafs dalam Al-Qur`an.
1.      Kebersihan dari perbuatan syirik
Terakam pada QS. Al-Mai`idah [5]:41 Al-Imam At-Tabari ketika menerangkan akhir ayat ini (أُولَئِكَ الَّذِينَ لَمْ يُرِدِ اللَّهُ أَنْ يُطَهِّرَ قُلُوبَهُمْ) sebagai berikut: “Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikhendaki Allah untuk menyucikan hati mereka, beliau mengatakan ‘mereka itulah orang-orang yang Allah swt. tidak menghendaki membersihkan dari kotornya kekafiran dan kotornya syirik yang ada pada hati mereka dengan kesucian islam dan kebersihan iman.  Begitu juga Ar-Razi menjelaskan “sesungguhnya Allah swt tidak menyucikan hatinya dari keraguan dan syirik, dan seandainya Allah swt melakukannya mesti manusia (seluruhnya) beriman.
2.      Tidak tersentuh oleh keonaran orang-orang kafir
Ketika Al-Qur`an meceritakan tentang Nabi Isa yang terekam pada QS. Ali-`Imran [3]: 55, pada kalimat ومطهرك من الذين كفروا   Az-Zuhaili menerangkan ialah “menjauhkanmu dan membersihkanmu dari orang kafir, yaitu pembebasan dari tuduhan mereka dengan tuduhan terhadap ibunya berbuat zina”.[6]
3.      Suci, tidak berbuat dosa, berzina dan fahisyah lainnya
Contohnya yaitu pada QS. Ali-Imran [3]: 42,
وَإِذْ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ يَا مَرْيَمُ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاكِ وَطَهَّرَكِ وَاصْطَفَاكِ عَلَى نِسَاءِ الْعَالَمِينَ
yang mengisahkan Allah swt mensucikan Maryam. Sebagaimana di kemukaan Ar-Razi. Kata tahhir pada ayat ini memiliki beberapa penafsiran.
a.       Allah swt. menyucikan dari kekafiran dan maksiat
b.      Allah swt. menyucikan dari sentuhan lelaki
c.       Allah swt  menyucikan dari haid dengan kata lain tidak haid
d.      Allah swt. menyucikan dari perbuatan-perbuatan tercela dan kebiasan jelek
e.       Allah swt. menyucikan dari ucapan-ucapan orang yahudi, tuduhan dan kedustaan mereka terhdapnya.
Begitu juga dijelaskan tentang Nabi Lut yang ditolong Allah dari kamunya yang mengerjkan fahisyah. Yang terekam dalam
وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلَّا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ )QS. Al-A`raf [7] :82(
  وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ
(QS. Al Anbiya [21]: 74(.
4.      Al-Qur`an yang suci
QS. Al-Waqi`ah [56]: 79 “لايمسه الا المطهرون
Banyak versi ulama yang memaknai ayat ini, sebelem menyentuh Al-Qur`an wudu terlebih dahulu, ada juga yang mengartikan para malaikat.
Quraish Shihab menuturkan, mayoritas ulama memehami penggantian nama tersebut kepada Al-Qur`an yang dinyatakan ayat sebelumnya, “ Di kitab yang terpelihara itu” dan atas dasar itu mereka memaknai Al-Mutahharun adalah para malaikat”. Disamping itu juga Al-Qur`an bukan dari jin yang dituturkan kepada para dukun (kahanah) yang dibisik-kan setan, sebagaimana tuduhan mereka kepada para Nabi, sebagai kahin.”[7]
رَسُولٌ مِنَ اللَّهِ يَتْلُو صُحُفًا مُطَهَّرَةً
(QS. Al- Bayyinah [98]:2)
Menurut Quraish Shihab, ayat ini makin mempertegas lagi atas bukti kebenaran kerasulan Muhammad saw. Karena yang dibacakanya adalah lembaran-lembaran yang disucikan dari segala najis dan kotoran yang imaterial seperti syiki dan dosa”[8]. Az-Zuhaili menyatakan. “Tidak batil dan bersih dari kesesatan dan kepalsuan.[9]
5.      Kesucian harta
خُذْ مِنْ أَمْوَالِهِمْ صَدَقَةً تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِمْ بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ إِنَّ صَلَاتَكَ سَكَنٌ لَهُمْ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
 QS. At-Tubah [9]: 103

Kebersihan jasmaniah dan Rohaniah
1.      Tidak mengonsumsi yang diharamkan secara zatiyyah (wujudnya)
Mengonsumsi makanan dan minuman yang diharamkan agama termasuk pada perbuatan tercela, kotor dan dapat mengakibatkan berbagai macam penyakit, seperti makan babi, anjing dan binatang-binatang lainnya. Bahkan buah-buahan yang halal pun bila sudah diperoses menjaid minuman atau zat tertentu, seperti anggur menjadi khamar, hal itu dilarang agama. Demikian juga dedaunan yang berakibat buruk seperti ganja dan tembakau, juga dilarang agama. Seperti tercantum dalam
وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبَاتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبَائِثَ
QS. Al-A`raf [7]: 157.
2.      Tidak mencapur usaha yang hahal dengan yang batil
وَآتُوا الْيَتَامَى أَمْوَالَهُمْ وَلَا تَتَبَدَّلُوا الْخَبِيثَ بِالطَّيِّبِ وَلَا تَأْكُلُوا أَمْوَالَهُمْ إِلَى أَمْوَالِكُمْ إِنَّهُ كَانَ حُوبًا كَبِيرًا
QS. An-Nisa [4]: 2
3.      Tidak melakukan perzinahan dan nenuduh Zina
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
QS. An-Nur [24]: 26
4.      Tidak melakukan penyalahgunaan seksual (homoseksual dan lesbi)
وَلُوطًا آتَيْنَاهُ حُكْمًا وَعِلْمًا وَنَجَّيْنَاهُ مِنَ الْقَرْيَةِ الَّتِي كَانَتْ تَعْمَلُ الْخَبَائِثَ إِنَّهُمْ كَانُوا قَوْمَ سَوْءٍ فَاسِقِينَ
QS. Al-Anbiya [21]: 74
5.      Tidak menikahi perempuan di masa `iddah
Perempuan yang bercerai dalam keadaan masih haid, maka berkewajiban `iddah selama waktu tertentu. Hal itu bukan hanya berkaitan dengan kepastian tidak hamil, namun juga agar perempuan tersebut sehat secara fisik.

Urgensi kebersihan
Paling tidak ada 4 urgensi kebersihan yang ditegaskan dalam Al-Qur`an, Yaitu:
1.      Allah swt. Menyukai orang yang menyucikan diri dan bersih.
وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْمَحِيضِ قُلْ هُوَ أَذًى فَاعْتَزِلُوا النِّسَاءَ فِي الْمَحِيضِ وَلَا تَقْرَبُوهُنَّ حَتَّى يَطْهُرْنَ فَإِذَا تَطَهَّرْنَ فَأْتُوهُنَّ مِنْ حَيْثُ أَمَرَكُمُ اللَّهُ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
(QS. Al-Baqarah [2]: 222)
لَا تَقُمْ فِيهِ أَبَدًا لَمَسْجِدٌ أُسِّسَ عَلَى التَّقْوَى مِنْ أَوَّلِ يَوْمٍ أَحَقُّ أَنْ تَقُومَ فِيهِ فِيهِ رِجَالٌ يُحِبُّونَ أَنْ يَتَطَهَّرُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الْمُطَّهِّرِينَ
(QS. At-Taubah [9]: 108)
2.      Membersikan badan, pakain dan rapih merupakn ibadah.
وَثِيَابَكَ فَطَهِّرْ
(QS. Al-Muddassir [74]: 4)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قُمْتُمْ إِلَى الصَّلَاةِ فَاغْسِلُوا وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوا بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى الْكَعْبَيْنِ وَإِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوا وَإِنْ كُنْتُمْ مَرْضَى أَوْ عَلَى سَفَرٍ أَوْ جَاءَ أَحَدٌ مِنْكُمْ مِنَ الْغَائِطِ أَوْ لَامَسْتُمُ النِّسَاءَ فَلَمْ تَجِدُوا مَاءً فَتَيَمَّمُوا صَعِيدًا طَيِّبًا فَامْسَحُوا بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ مِنْهُ مَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُمْ مِنْ حَرَجٍ وَلَكِنْ يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
(QS. Al-Ma`idah [5]: 6)
3.      Membersihkan tempat ibadah adalah sebagian dari ibadah peintah Allah swt.
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِنْ مَقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
(QS. Al-Baqarah [2]: 125)
4.      Syarat untuk Menjadi Ahlu Quran.
لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ
(QS. Al-Waqi`ah [56]: 79)

Urgensi tazkiyah
Jika kita mencermati term tazkiyah dalam Al-Qur`an, tentu kita akan mendapatkan begitu banyak ayat-ayat yang menunjukan arti penting dan kedudukan tazkiyatun-nafs dalam ajaran islam. Beberapa nas dari Al-Qur`an dan Sunnah yang menyiratkan tentang urgensitas tazkiyatun-hafs dapat disebutkan antara lain:
1.      Allah swt. Bersimpah dan menegaskan sumpah-Nya, bahwa tazkiyatun-nafs akan berimplikasi pada kesalihan dan keberuntungan hamba-Nya.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا  (QS. Asy-Syam [91]: 9)
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى  (QS. Al-A`la [87]: 14-15)
2.      Tazkiyatun-nafs merupakan salah satu tugas pokok para nabi.
فَقُلْ هَلْ لَكَ إِلَى أَنْ تَزَكَّى  (QS. An-Nazi`at [79]: 18)
هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ
(QS. Al-Jumu`ah [62]: 2)
3.      Tazkiyah-nafs menjadi syarat untuk meraih derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi.
وَمَنْ يَأْتِهِ مُؤْمِنًا قَدْ عَمِلَ الصَّالِحَاتِ فَأُولَئِكَ لَهُمُ الدَّرَجَاتُ الْعُلَى
جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ جَزَاءُ مَنْ تَزَكَّى
(QS. Taha [20]: 75-76)
4.      Tazkiyah-nafs merupakan salah satu permohonan dan doa utama yang dipanjatkan Rasulullah saw. Kepada Allah. Dalam sabdanya, Rasulullah berdoa:
"اللهم آت نفسي تقواها وزكها أنت خير من زكاها أنت وليها ومولاها"
“Ya Allah beikanlah ketakwaan kapda diriku ini dan sucikanlah ia, Engkau adalah sebaik-baiknya Zat yang menyucikannya, Engkau adalah Penolong dan Tuannya.

KESIMPULAN
Taharah begitu luas makna dan pengaruhnya, taharah mencakup kebersihan ma`nawiyah dan hissiyah berbeda dengan tazkiyah dan nazafah yang mencakup pada kebersihan ma`nawiyah dan nazafah yang hanya cenderung mencakup pada kebersihan hissiyah. Al-Qur`an begitu memperhatikan taharah dari dua makna ini, maka seharusnya sebagai hamba Allah swt yang beriman dan taat dengan perintah Allah swt kita semua wajib untuk membersihkan hati kita dari sifat-sifat yang dapat merusak hati, membersihkan seluruh anggota badan agar tidak terkena penyakit bahkan tidak kalah pentingnya yaitu selalu memperhatikan kebersihan lingkunan, karena itu semua bagian dari amal saleh yang tergambar dari iman yang bersemayam dalam hati. Lebih dari itu kebesihan merukan satu ibadah.

DAFTAR PUSTAKA
-         Al-jurjaani, Ali bin Muhammad bin Ali Az-Zini Asy-syriif (w.816), At-Ta`rifaat.   (maktabah syamilah)
-         Al-Qahtani, Sa`idi bin Ali bin Wahf, Shalatul Mu`min
-         Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Tematik Kesehatan Dalam perspektif Al-Qur`an. 2013.  Jakarta. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an.
-         Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Al-Qur`an dan Isu-Isu kontempoter II. 2012. Jakarta. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an
-         Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Tematik Pelestarian Lingkungan Hidup. 2009.  Jakarta. Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an.
-         al-Zuhaili, Wahbah. Tafsir Munir. 2009. Suriah: Darul Fikr.
-         Shihab, M. Quraish. Tafsir Misbah. 2002. Jakarta: Lentera Hati.



[1] Ali bin Muhammad bin Ali Az-Zini Asy-syriif Al-jurjaani (w.816), At-Ta`rifaat.   (maktabah syamilah)
[2] Sa`idi bin Ali bin Wahf Al-Qahtani, Shalatul Mu`min hal, 6.
[3] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Tematik Kesehatan Dalam perspektif Al-Qur`an  (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, 2013) hal. 22
[4] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Al-Qur`an dan Isu-Isu kontempoter II (Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, 2012)hal, 361-364.
[5] Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an Badan Litbang dan Diklat,  Tafsir Al-Qur`an Tematik Pelestarian Lingkungan Hidup(Jakarta: Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur`an, 2009) hal, 231-234
[6] Wahbah al-Zuhaili, Tafsir Munir (Suriah: Darul Fikr, 2009) v, 2 hal, 209.
[7] M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah, (Jakarta: Lentera Hati 2002) hal, 380-382.
[8] M. Quraish Shihab, Tafsir Misbah,, hal, 514.
[9] Wahbah al-Zuhaili, Tafsir Munir, v 14, hal, 297

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

arsip

al Bagowi