Akidah
Yang Kuat dan Sikap Dermawan
Khutbah Pertama
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ
وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ قَيِّمًۭا
لِّيُنذِرَ بَأْسًۭا شَدِيدًۭا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ
يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًۭا
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ،
نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ
آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ
فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ
وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ
وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
أَمَّا بَعْدُ؛..قَالَ تَعَالَى.. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ
هَلُوعًا* إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا*
إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ* ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ* وَٱلَّذِينَ
فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Mari kita memperhatikan firman Allah swt. Dalam surat
Al-Ma'aarij: 19-25
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا* إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا* إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ* ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ
دَآئِمُونَ* وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ
حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat
haluu'a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh
kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang- orang
yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan
orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin)
yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau
meminta)." (Al-Ma'aarij: 19-25).
Dalam
surat al ma`aarij ini Allah menjelaskan bahwa sanya manusia di ciptakan
cendrung bersikap haluu`a.. maka timbul pertanyaan Apakah sikap haluu`a itu?
Dalam
kitab tafsir, haluu`a memiliki arti cepat gelisah, keluh kesah, atau
berkeinginan meluap-luap semacam sifat rakus.
Haluu`a ini pula ditafsirkan dengan dua ayat berikutnya
(20--21)
إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ
جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا
Ketika ia
tertimpa kesulitan, hatinya
terasa sempit, goncang,
dan mudah berputus
asa. Ketika beroleh nikmat dan
kebaikan, ia bersikap kikir. Yaitu, kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama.
demikian sifat-sifat manusia pada umumnya....yaitu
bersikap haluuu`a.....
namun, tidak semua
manusia berperilaku demikian. Seorang muslim
semestinya tidak bersikap
haluu'a, mengapa?
Coba kita perhatikan ayat selanjutnya.. yaitu ayat 22-23
إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ*
ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ
"Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang
mereka itu tetap mengerjakan salatnya (daimun)." Dengan salat, hati
menjadi tenteram. Juga, dengan salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan.
Maka, seorang mukmin yang salatnya dijaga dengan benar, ia tidak gampang
berkeluh kesah ketika diuji oleh cobaan.
Karena, solat adalah tanda seorang muslim dan lebih dari
itu orang yang mengerjakan solat secara berkesinambungan terus menerus maka itu
salah satu ciri orang beriman. Dan orang
beriman, mereka tahu cobaan itu adalah untuk mengetes ke imanan mereka.
Sebagain mana allah berfiman
dalam surat al ankabut. Ayat 2
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ
أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja)
mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Seorang muslim semestinya tidak memiliki sikap haluu'a,
mengapa?
إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ
جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا
Karena, seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak
bagi orang yang meminta (as-sail) dan
orang yang tidak mempunyai apa-apa (al-mahruum).
وَٱلَّذِينَ فِىٓ
أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian
tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai
apa-apa."
As-sail adalah orang yang meminta. Terhadap orang semacam
ini terdapat hak bagi dia, seperti dalam sabda Rasulullah saw., "Bagi
orang yang meminta- minta terdapat hak, meskipun ia datang mengendarai
kuda." (HR Abu Dawud dari hadis Sufyan ats- Tsauri, dalam riwayat lain
disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib).
Adapun al-mahrum, seperti didefinisikan Ibnu Abbas,
adalah orang yang bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal,
tidak memiliki pendapatan, dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat menopang.
Rasulullah pernah bersabda, "Orang miskin bukanlah orang yang keliling dan
engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir
kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang
mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah
kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
maka dalam surat al ma`arij ayat 19-25 ini, memberikan
pesan kepada kita agar tidak besifat haluu`a.
Dan agar kita terjauh dari sifat sifat halu`a ini maka
kita harus memiliki dua perkara.
pertama. Kita harus memiliki Aqidah Yang Kuat. Dan yang kedua adalah Sikap Dermawan
pertama. Kita harus memiliki Aqidah Yang Kuat. Dan yang kedua adalah Sikap Dermawan
Aqidah
merupakan pondasi awal bagi setiap manusia dalam menjalankan kehidupan. Akidah
yang benar akan membawa pada ujung perjalanan yang penuh kebahagiaan. Dalam
bahasa agama, akidah ialah keimanan yang menancap dalam setiap jiwa yang muncul
karena kesadaran akan keberadan sesuatu yang lebih hebat di luar dirinya.
Allah memberikan perumapaan orang yang memiliki akidah
yang kuat seperti pohon yang memiliki akar yang kokoh menancap kedalam bumi.
Dalam surat ibrohin (14) :24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ
ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ
وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit,”
Setiap orang harus memprisai dirinya dengan akidah yang
benar. Ulama sepakat bahwa akidah yang benar ialah yang berlandaskan pada
ahlussunnah wal jamaah. Orang memiliki akidah yang kuat akan selalu bersikap
optimis dalam hidup, berjuang keras menghadapi setiap masalah, tidak bergantung
pada makhluk dan berbagai karakter positif lainnya. Ia hanya menggantungkan
segala sesuatu hanya kepada Tuhan. Allah as-shamad, Allah-lah tempat
bergantung.
Perhatikan kisah Nabi Musa ketika Fir`aun dan bala
tentaranya mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Maka setelah kedua kelompok itu,
berdekatan sehingga saling melihat. Berkata pengikut-pengikut Nabi Musa dengan
penuh rasa takut: “sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”(asy-syu`ara;
61)
فَلَمَّا تَرَٰٓءَا
ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ* قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ
Kemudian Nabi Musa menjawab : “Tidak! Sekali-kali kamu
tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberikan
petunjuk menuju jalan keselamatan dari kerajan Fir`aun.”
Dari sini kita bisa menggambil hikamah ketika kita
dihadapkan dengan banyak masalah dan ataupun terkena musibah katakanlah dengan
penuh keyakinan إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ “sesungguhnya
Tuhanku yang akan memerikan petunjuk”. Aqidah yang kuat dan yang kedua yaitu
Sikap dermawan
Salah satu ciri individual yang memiliki jiwa sosial
adalah selalu memikirkan orang lain yang berkebutuhan. Tidak hanya itu, ia akan
memberikan semampu mungkin apa saja untuk membantu orang yang membutuhkan.
Kebiasan berbagi telah dicontohkan sendiri oleh pribadi Rasulullah saw., dan
para sahabat. Rasulullahsaw., juga telah menasihati “tangan diatas lebih baik
daripada tangan yang di bawah”. (HR.Bukhari)
Dengan berbagi kepada sesama berarti kita telah menekan
penyakit kikir agar tidak menggrogoti hati. Kebiasaan berbagi akan menimbulkan
ikatan emosional antar individu yang pada akhirnya akan melahirkan sikap peduli
dan jauh dari egoisme. Salah satu ciri
orang yang bertaqwa yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah orang yang
senantiasa berbagi baik dalam keadaan lapang maupun sempit. (QS. Ali Imron:
134)
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ
فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ
ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di
waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan
memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Namun , dalam
berbagipun ada etiakanya. Jika etika ini tidak diindahkan maka perbuatan
kita akan sia-sia tidak berbekas sepeti debu di atas batu yang tertiup angin.
Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain hendaknya jangan sampai
disertai dengan hal-hal yang bisa menyakiti orang yang kita beri dan tidak pula
menyebut-nyebut pemberian kita. Karena hal tersebut bisa manghapus pahala.(QS.
Al- Baqarah: 262)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu
menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti
(perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya
kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka
perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian
batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah).
Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah
tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
Dengan demikian, marilah kita menjadi pribadi yang
memiliki Akidah yang kuat yang akan membawa pada ujung perjalanan yang penuh
kebahagiaan dan sikap dermawan yang dapat menekan penyakit kikir agar tidak
menggrogoti hati. Sehingga kita menjadi orang terhindar dari sikap haluu`a.
بَارَكَ اللهُ لِي
وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ
وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ
السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ
هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ
مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah
kedua
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ
ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ * هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن طِينٍۢ ثُمَّ
قَضَىٰٓ أَجَلًۭا ۖ وَأَجَلٌۭ مُّسَمًّى عِندَهُۥ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ
عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ
وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا
. وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ..... أَمَّا بَعْدُ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوْا أنَّ
اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ ، أَمَرَكُمْ بِالصَلاَةِ وَالسَلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ
الكَرِيْمِ فَقَالَ الله ُتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:
أعوذ بالله من الشيطان
الرجيم
بسم الله الرحمن
الرحيم
(إنَّ اللهَ وملائكتَهُ
يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا)
اللّـهُمَّ صَلّ
على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى
ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا
بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.
اللّهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ
مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ
الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ
وَالمُشْرِكِيْنَ، اللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا
وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِسْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَاشِدِيْنَ،
اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ القُلُوْبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ
وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ
شَرِيْعَتِكَ فَوَثِّقِ اللّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا
وَامْلَأْهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُو وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الإِيْمَانِ
بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى
الشَهَادَةِ فِي سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عبادَ اللهِ، إنَّ
اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ
والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. اذكُروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكُروهُ
يزِدْكُمْ واستغفروه يغفِرْ لكُمْ واتّقوهُ يجعلْ لكُمْ مِنْ أمرِكُمْ مخرَجًا. وَأَقِمِ
الصلاة .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar