Senin, 16 Oktober 2017

Khutbah singkat Jumat Akidah yang Kuat Dan Sikap Dermawan

Akidah Yang Kuat dan Sikap Dermawan
Khutbah Pertama
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِىٓ أَنزَلَ عَلَىٰ عَبْدِهِ ٱلْكِتَٰبَ وَلَمْ يَجْعَل لَّهُۥ عِوَجَا ۜ قَيِّمًۭا لِّيُنذِرَ بَأْسًۭا شَدِيدًۭا مِّن لَّدُنْهُ وَيُبَشِّرَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٱلَّذِينَ يَعْمَلُونَ ٱلصَّٰلِحَٰتِ أَنَّ لَهُمْ أَجْرًا حَسَنًۭا
 اللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدِ، الْفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، نَاصِرِ الْحَقِّ بِالْحَقِّ، وَالْهَادِي إِلَى صِرَاطِكَ الْمُسْتَقِيْمِ وَعَلىَ آلِهِ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.. يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُوْلُوْا قَوْلاً سَدِيْدًا. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا
أَمَّا بَعْدُ؛..قَالَ تَعَالَى.. إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا* إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا* إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ* ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ* وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ


Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Mari kita memperhatikan firman Allah swt. Dalam surat Al-Ma'aarij: 19-25
إِنَّ ٱلْإِنسَٰنَ خُلِقَ هَلُوعًا* إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا* إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ* ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ* وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat haluu'a (keluh kesah lagi kikir). Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan, ia amat kikir. Kecuali, orang- orang yang mengerjakan salat. Yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya. Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu. Bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa (yang tidak mau meminta)." (Al-Ma'aarij: 19-25).
Dalam surat al ma`aarij ini Allah menjelaskan bahwa sanya manusia di ciptakan cendrung bersikap haluu`a.. maka timbul pertanyaan Apakah sikap haluu`a itu?
Dalam kitab tafsir, haluu`a memiliki arti cepat gelisah, keluh kesah, atau berkeinginan meluap-luap semacam sifat rakus.
Haluu`a ini pula ditafsirkan dengan dua ayat berikutnya (20--21)
إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا
Ketika  ia  tertimpa  kesulitan,  hatinya  terasa  sempit,  goncang,  dan  mudah  berputus  asa.  Ketika beroleh nikmat dan kebaikan, ia bersikap kikir. Yaitu, kikir dari hak Allah dan kikir dari hak sesama.
demikian sifat-sifat manusia pada umumnya....yaitu bersikap haluuu`a.....
namun, tidak  semua manusia berperilaku demikian. Seorang muslim  semestinya  tidak  bersikap
haluu'a, mengapa?
Coba kita perhatikan ayat selanjutnya.. yaitu ayat 22-23
إِلَّا ٱلْمُصَلِّينَ* ٱلَّذِينَ هُمْ عَلَىٰ صَلَاتِهِمْ دَآئِمُونَ
"Kecuali orang-orang yang mengerjakan salat, yang mereka itu tetap mengerjakan salatnya (daimun)." Dengan salat, hati menjadi tenteram. Juga, dengan salat perbuatan keji dan mungkar dapat ditahan. Maka, seorang mukmin yang salatnya dijaga dengan benar, ia tidak gampang berkeluh kesah ketika diuji oleh cobaan.
Karena, solat adalah tanda seorang muslim dan lebih dari itu orang yang mengerjakan solat secara berkesinambungan terus menerus maka itu salah satu ciri orang beriman.  Dan orang beriman, mereka tahu cobaan itu adalah untuk mengetes ke imanan mereka. Sebagain mana allah berfiman
dalam surat al ankabut. Ayat 2
أَحَسِبَ ٱلنَّاسُ أَن يُتْرَكُوٓا۟ أَن يَقُولُوٓا۟ ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
Seorang muslim semestinya tidak memiliki sikap haluu'a, mengapa?
إِذَا مَسَّهُ ٱلشَّرُّ جَزُوعًۭا* وَإِذَا مَسَّهُ ٱلْخَيْرُ مَنُوعًا
Karena, seorang mukmin menyadari pada hartanya ada hak bagi orang yang meminta (as-sail) dan
orang yang tidak mempunyai apa-apa (al-mahruum).
وَٱلَّذِينَ فِىٓ أَمْوَٰلِهِمْ حَقٌّۭ مَّعْلُومٌۭ *لِّلسَّآئِلِ وَٱلْمَحْرُومِ
"Dan orang-orang yang dalam hartanya tersedia bagian tertentu, bagi orang (miskin) yang meminta dan orang yang tidak mempunyai apa-apa."
As-sail adalah orang yang meminta. Terhadap orang semacam ini terdapat hak bagi dia, seperti dalam sabda Rasulullah saw., "Bagi orang yang meminta- minta terdapat hak, meskipun ia datang mengendarai kuda." (HR Abu Dawud dari hadis Sufyan ats- Tsauri, dalam riwayat lain disandarkan kepada Ali bin Abu Thalib).
Adapun al-mahrum, seperti didefinisikan Ibnu Abbas, adalah orang yang bernasib buruk. Ia tidak memiliki bagian dalam baitul mal, tidak memiliki pendapatan, dan tidak memiliki pekerjaan yang dapat menopang. Rasulullah pernah bersabda, "Orang miskin bukanlah orang yang keliling dan engkau memberinya sesuap atau dua suap makanan dan sebutir atau dua butir kurma, akan tetapi orang miskin adalah orang yang tidak memiliki kekayaan yang mencukupinya sedangkan orang lain tidak mengetahuinya sehingga bersedekah kepadanya." (HR Bukhari dan Muslim).
Maasyiral muslimin rahimakumullah!
maka dalam surat al ma`arij ayat 19-25 ini, memberikan pesan kepada kita agar tidak besifat haluu`a.
Dan agar kita terjauh dari sifat sifat halu`a ini maka kita harus memiliki dua perkara.
pertama. Kita harus memiliki  Aqidah Yang Kuat. Dan yang kedua adalah Sikap Dermawan
Aqidah merupakan pondasi awal bagi setiap manusia dalam menjalankan kehidupan. Akidah yang benar akan membawa pada ujung perjalanan yang penuh kebahagiaan. Dalam bahasa agama, akidah ialah keimanan yang menancap dalam setiap jiwa yang muncul karena kesadaran akan keberadan sesuatu yang lebih hebat di luar dirinya.
Allah memberikan perumapaan orang yang memiliki akidah yang kuat seperti pohon yang memiliki akar yang kokoh menancap kedalam bumi. Dalam surat ibrohin (14) :24
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ ٱللَّهُ مَثَلًۭا كَلِمَةًۭ طَيِّبَةًۭ كَشَجَرَةٍۢ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌۭ وَفَرْعُهَا فِى ٱلسَّمَآءِ
“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,”
Setiap orang harus memprisai dirinya dengan akidah yang benar. Ulama sepakat bahwa akidah yang benar ialah yang berlandaskan pada ahlussunnah wal jamaah. Orang memiliki akidah yang kuat akan selalu bersikap optimis dalam hidup, berjuang keras menghadapi setiap masalah, tidak bergantung pada makhluk dan berbagai karakter positif lainnya. Ia hanya menggantungkan segala sesuatu hanya kepada Tuhan. Allah as-shamad, Allah-lah tempat bergantung.
Perhatikan kisah Nabi Musa ketika Fir`aun dan bala tentaranya mengejar Nabi Musa dan pengikutnya. Maka setelah kedua kelompok itu, berdekatan sehingga saling melihat. Berkata pengikut-pengikut Nabi Musa dengan penuh rasa takut: “sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul”(asy-syu`ara; 61)
فَلَمَّا تَرَٰٓءَا ٱلْجَمْعَانِ قَالَ أَصْحَٰبُ مُوسَىٰٓ إِنَّا لَمُدْرَكُونَ* قَالَ كَلَّآ ۖ إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ
Kemudian Nabi Musa menjawab : “Tidak! Sekali-kali kamu tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku bersamaku, kelak Dia akan memberikan petunjuk menuju jalan keselamatan dari kerajan Fir`aun.”
Dari sini kita bisa menggambil hikamah ketika kita dihadapkan dengan banyak masalah dan ataupun terkena musibah katakanlah dengan penuh keyakinan  إِنَّ مَعِىَ رَبِّى سَيَهْدِينِ “sesungguhnya Tuhanku yang akan memerikan petunjuk”. Aqidah yang kuat dan yang kedua yaitu
Sikap dermawan
Salah satu ciri individual yang memiliki jiwa sosial adalah selalu memikirkan orang lain yang berkebutuhan. Tidak hanya itu, ia akan memberikan semampu mungkin apa saja untuk membantu orang yang membutuhkan. Kebiasan berbagi telah dicontohkan sendiri oleh pribadi Rasulullah saw., dan para sahabat. Rasulullahsaw., juga telah menasihati “tangan diatas lebih baik daripada tangan yang di bawah”. (HR.Bukhari)
Dengan berbagi kepada sesama berarti kita telah menekan penyakit kikir agar tidak menggrogoti hati. Kebiasaan berbagi akan menimbulkan ikatan emosional antar individu yang pada akhirnya akan melahirkan sikap peduli dan jauh dari  egoisme. Salah satu ciri orang yang bertaqwa yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah orang yang senantiasa berbagi baik dalam keadaan lapang maupun sempit. (QS. Ali Imron: 134)
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.
Namun , dalam  berbagipun ada etiakanya. Jika etika ini tidak diindahkan maka perbuatan kita akan sia-sia tidak berbekas sepeti debu di atas batu yang tertiup angin. Ketika kita memberikan sesuatu kepada orang lain hendaknya jangan sampai disertai dengan hal-hal yang bisa menyakiti orang yang kita beri dan tidak pula menyebut-nyebut pemberian kita. Karena hal tersebut bisa manghapus pahala.(QS. Al- Baqarah: 262)
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
Dengan demikian, marilah kita menjadi pribadi yang memiliki Akidah yang kuat yang akan membawa pada ujung perjalanan yang penuh kebahagiaan dan sikap dermawan yang dapat menekan penyakit kikir agar tidak menggrogoti hati. Sehingga kita menjadi orang terhindar dari sikap haluu`a.
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمْ فيِ القُرْآنِ العَظِيْمِ، وَنَفَعَنيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآياَتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ وَتَقَبَّلْ مِنيِّ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ.
أَقُوْلُ قَوْليِ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ ليِ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
Khutbah kedua
ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ وَجَعَلَ ٱلظُّلُمَٰتِ وَٱلنُّورَ ۖ ثُمَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ بِرَبِّهِمْ يَعْدِلُونَ * هُوَ ٱلَّذِى خَلَقَكُم مِّن طِينٍۢ ثُمَّ قَضَىٰٓ أَجَلًۭا ۖ وَأَجَلٌۭ مُّسَمًّى عِندَهُۥ ۖ ثُمَّ أَنتُمْ تَمْتَرُونَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوْبِ وَدَوَائِهَا . وَعَافِيَةِ اْلأَبْدَانِ وَشِفَائِهَا . وَنُوْرِ اْلأَبْصَارِ وَضِيَائِهَا . وَقُوْتِ اْلأَرْوَاحِ وَغِذَائِهَا . وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ..... أَمَّا بَعْدُ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِۦ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ.
وَاعْلَمُوْا أنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ ، أَمَرَكُمْ بِالصَلاَةِ وَالسَلاَمِ عَلَى نَبِيِّهِ الكَرِيْمِ فَقَالَ الله ُتَعَالَى فِي كِتَابِهِ الكَرِيْمِ:
أعوذ بالله من الشيطان الرجيم
بسم الله الرحمن الرحيم
(إنَّ اللهَ وملائكتَهُ يصلُّونَ على النبِيِّ يَا أيُّهَا الذينَ ءامَنوا صَلُّوا عليهِ وسَلّموا تَسْليمًا)
اللّـهُمَّ صَلّ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا صلّيتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيم وبارِكْ على سيّدِنا محمَّدٍ وعلى ءالِ سيّدِنا محمَّدٍ كمَا بارَكْتَ على سيّدِنا إبراهيمَ وعلى ءالِ سيّدِنا إبراهيمَ إنّكَ حميدٌ مجيدٌ.

اللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ وَالمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ وَالأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَعْوَاتِ يَاقَضِيَ الحَاجَاتِ، اللّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ، اللّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا وَكَرِّهْ إِلَيْنَا الكُفْرَ وَالفُسُوْقَ وَالعِسْيَانَ وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَاشِدِيْنَ، اللّهُمَّ إِنَّكَ تَعْلَمُ أَنَّ هذِهِ القُلُوْبَ قَدِ اجْتَمَعَتْ عَلَى مَحَبَّتِكَ وَالْتَقَتْ عَلَى طَاعَتِكَ وَتَوَحَّدَتْ عَلَى دَعْوَتِكَ وَتَعَاهَدَتْ عَلَى نُصْرَةِ شَرِيْعَتِكَ فَوَثِّقِ اللّهُمَّ رَابِطَتَهَا وَأَدِمْ وُدَّهَا وَاهْدِهَا سُبُلَهَا وَامْلَأْهَا بِنُوْرِكَ الَّذِيْ لاَ يَخْبُو وَاشْرَحْ صُدُوْرَهَا بِفَيْضِ الإِيْمَانِ بِكَ وَجَمِيْلِ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ وَأَحْيِهَا بِمَعْرِفَتِكَ وَأَمِتْهَا عَلَى الشَهَادَةِ فِي سَبِيْلِكَ إِنَّكَ نِعْمَ المَوْلَى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ، رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


عبادَ اللهِ، إنَّ اللهَ يأمرُ بالعَدْلِ والإحسانِ وإيتاءِ ذِي القربى وينهى عَنِ الفحشاءِ والمنكرِ والبَغي ، يعظُكُمْ لعلَّكُمْ تذَكَّرون. اذكُروا اللهَ العظيمَ يذكرْكُمْ واشكُروهُ يزِدْكُمْ واستغفروه يغفِرْ لكُمْ واتّقوهُ يجعلْ لكُمْ مِنْ أمرِكُمْ مخرَجًا. وَأَقِمِ الصلاة .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

arsip

al Bagowi