Berjumpa Dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Berbicara
kasih sayang maka kita teringat dengan suatu surah dalam Alqur`an, surah yang
mungkin sering dikumandangkan ketika acara peringatan hari besar islam yaitu
surat al-Isra. Surah yang bercerita bagaimana Rasulullah saw. diperjalankan
pada malam hari dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsa bisa disebut isra
miroj dan juga ada yang menyebut surah ini dengan nama surah Bani Isra’il,
karena hanya disini diceritakan tentang pembinasaan dan penghancuran Bani
Isra`il.
Dalam
surah al-Isra yaitu surah ke-17 ayat 70, Allah swt berfirman.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ
ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ
ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا
“Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkut
mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik
dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk
yang telah Kami ciptakan.” ( Q.S Al-Isra [17]: 70).
Ketika
kita memperhatikan ayat ini sekaligus mentadaburinya maka kita akan merasakan
kasih sayang itu, paling tidak kita lihat 2 aspek kasih sayang Allah swt. dalam
ayat ini. Yaitu, pertama Allah swt. memuliakan manusia pada dirinya
sendiri dan yang kedua, Allah swt. memuliakan manusia diluar dari
dirinya yakni Allah swt. menjadikan alam semesta ini sebagai fasilitas untuk
kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia.
Pertama,
perhatikanlah bagaiman Allah swt. memuliakan manusia pada dirinya sendiri.
Memuliakan manusia dengan diberi bentuk tubuh yang bagus sebagaimana diisyaratkan
pada surah at-Tin.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ
فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍۢ
“sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (Q.S At-Tin [95]: 4)
Bentuk bagus tentu akan merasa
kurang apa bila tidak ada yang bisa dimanfaatkan untuk digunakan dalam
kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, Allah swt. memberi kemampuan mendengar,
melihat, berfikir dan juga berbicara, sehingga
manusia bisa berfungsi di pentas dunia ini yang diisyaratkan pada surah An-Nahl
dan surah Ar-Rahman.
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ
بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ
وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan
Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui
sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar
kamu bersyukur.”
(Q.S An-Nahl [16]: 78)
عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ
“Mengajarnya
pandai berbicara.” (Q.S Ar-Rahman [55]: 4)
Tidak hanya bentuk bagus yang bisa
berfungsi tetapi, Allah swt. memuliakan dengan memberikan pengetahuan dan juga
diberi kebabasan memilah dan memilih. Itu hanya beberapa saja karunia Allah swt. kepada diri manusia itu sendiri.
Mungkin kita tidak akan mampu untuk menceritakan semua karunia Allah swt.
kepada manusia. Karena tidak mungkin kita mampu menggambarkan semua karunia
Allah swt. kecuali hanya sedikit. Sebagaimana tidak mungkin satu tetes air
dapat melukiskan samudra yang luas dan tidak mungkin satu butir pasir dapat
menggambarkan gurun sahara.
Kedua,
yaitu bagaimana Allah swt. memuliakan manusia dengan menjadikan alam semesta
ini sebagai fasilitas untuk kebutuhan manusia. Coba kita perhatikan matahari,
bulan dan bintang. Matahari dan bulan salah satu fungsinya yaitu penentu waktu.
Matahari, bumi dan bulan yang saling berotasi dan berevolusi maka fenomena malam dan siang pun salih
berganti sehingga kita bisa menentukan
bilangan tahun-tahun dan perhitungan bulan, serta hari. Bukankan penentuan
penanggalan hijriah itu berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi dan penanggalan masehi itu berdasarkan
perputan bumi mengelilingi matahari. Sebgaimana firman Allah swt.
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ
وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ ٱلَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ
ٱلنَّهَارِ مُبْصِرَةًۭ لِّتَبْتَغُوا۟ فَضْلًۭا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا۟
عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍۢ فَصَّلْنَٰهُ تَفْصِيلًۭا
“Dan
Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam
dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu,
dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala
sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Q.S Al-Isra [17]: 12)
Bagaimana dengan bintang yang bisa
menunjukan arah, itu baru beberapa benda yang ada di langit. Coba perhatikan
benda-benda yang ada di bumi ini, angin, awan, air, sungai, danau, laut,
samudra, gunung-gunung, binatang yang hidup di air dan daratan serta semua
benda yang ada di bumi ini. Angin yang digunakan paling tidak untuk
menerbangkan pesawat sehingga kita bisa berpergian ke berbagai negara dengan
cepat dan mudahnya. Singkatnya, semuanya itu memiliki fungsi yang sangat besar
untuk kelangsungan hidup manusia, bayangkan jika Allah swt menjadikan untuk
kita malam itu terus-menerus sampai hari Kiamat atau Allah menjadikan untuk
kita siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat.
Membaca
dan mentadaburi Al-qur`an maka kita akan menemukan semua penjelasaan tentang
alam semesta ini yang salah satu fungsinya yaitu untuk kelangsungan hidup
manusia. Maka kita akan merasakan kasih sayang Allah swt. begitu besar karena
begitu banyak ayat yang membicarakan bagaimana alam ini disediankan untuk umat
manusia. Inti dari itu semua terdapat pada surah al-Jathiyah
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى
ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ
لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan
Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya,
(sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar
terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir.”
(Q.S Al-Jathiyah [45]: 13)
Hemat penulis, ketika kita
memperhatikan diri kita dan sebagian Alam ini kita akan menemukan kasih sayang
dari yang Maha Pengasih dan sekaligus Maha Penyayang. Ketika kita merasakan
kasih sayang itu tentu kita akan berkeinginan untuk menemui Sang Maha Pengasih
dan Maha Penyayang itu, dusta ketika kita merasakan kasih sayang seseorang
kemudian kita tidak mendambakan pertemuan dengannya.
Lalu Bagaimana kita dapat bertemu
dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu? maka salah satu jawabannya
terdapat paling tidak dalam surat
Al-kahfi dan al-Ahzab.
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠
بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ
فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَٰلِحًۭا وَلَا
يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
Katakanlah:
Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku:
"Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada
Tuhannya".
(Q.S
Al-Kahfi [18]: 110)
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى
رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ
ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu
(yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari
kiamat dan dia banyak menyebut Allah.”
(Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
Paling
tidak ada 2 hal yang harus kita perhatikan agar kita bisa berjumpa dengan Sang
Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pertama, Iman. beriman dengan iman
yang murni bisa disebut dengan akidah yang kuat. Ketika akidah atau keimanan
kita telah kuat, bagaikan pohon yang subur dan baik, akarnya menghujam kedalam
bumi sehingga tidak dapat dirobohkan oleh angin dan cabangnya menjulang keatas
langit, dan memberikan buah yang banyak sehingga dapat memberi manfaat bagi
manusia. Sehingga ketika kita memiliki keimanan yang kokoh, maka apa pun cobaan
yang ada di arena dunia ini, tidak akam mampu menghancurkan dan menjerumuskan
keimanan kita. Hasil dari keimanan yang benar adalah akhlak yang mulia dan
dengan akhlak itulah kita dapat memberi manfaat di pentas dunia ini. Yang pada
akhirnya menjadikan hidup lebih berkualitas dan fungsi sebagai khalifah di muka
bumi ini tercapai.
Kedua, amal shalih. Paling tidak amal
shalih bisa bermakna ‘perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar untuk
mendatangkan manfaat dan/atau menolak kerusakan’ atau juga berarti ‘amal-amal
yang sesuai dengan fungsi, sifat dan kodrat sesuatu.
Dalam
Al-Qur`an kita akan banyak menjumpai ‘amal shalih (عمل
صالح) pada umumnya selalu dikaitkan dengan kata Iman (إيمان), yang berarti perbuatan baik merupakan
pancaran dari rasa iman kepada Allah swt. dan sebaliknnya Iman adalah sebuah
syarat diterimannya amal shalih. Oleh karenanya, Iman dan Amal Shalih tidak
bisa dipisahkan.
Manusia
adalah makhluk individual ketika ia bermunajat kepada Allah swt. itulah iman
dan sekaligus manusia adalah makhluk sosial ketika dia berinteraksi dengan
manusia itulah alam shalih. Lalu timbul pertanyaan bagaimana cara yang baik
untuk berinteraksi dengan manusia? Siapa yang bisa dijadikan tauladan untuk hal
ini? siapa yang bisa dijadikan penasihatnya?
Sebelum
menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penulis ingin mengajak untuk memperhatikan
kisah Nabi Musa as. Kisah Nabi Musa yang terdapat pada surah Al-A`raf [7] ayat
142-155, satu saja kita ambil hikmah dari cerita ini yaitu ketika Nabi Musa as.
meninggalkan Kaumnya untuk memenuhi panggilan Allah swt. maka kaumnya diuji
oleh Allah swt. maka kaumnya disesatkan oleh Samiri yang terdapat kisahnya di
surah Taha [20]: 85. Kaumnya Nabi Musa ditinggalkan Oleh Nabinya yaitu Nabi
Musa as. Hanya 40 hari tapi dalam waktu yang singkat itu kamunya tersesat dan
menyembah selain Allah swt. karena meraka tidak mendapatkan tauladan dan
nasihat lagi dari nabinya. Bagaiman dengan Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi kita,
berapa lama kita ditinggalkan oleh beliau. Maka yang patut dijadikan tauladan
dan penasihat untuk mengarungi bahtra kehidupan yang sarat dengan cobaan
hanyalah Nabi Muhammad saw. sebagaimana diisyaratkan yang terekam dalam
Al-Qur`an.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى
رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ
ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah.”
(Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
Nabi
Muhammad saw. dari sekian banyak sifat yang dimiliki Rasul saw. ada 2 sifat
yang patut kita contoh dan sifat itu disebutkan saling berdampingan. Allah swt
berfirman:
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ
أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ
رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Sungguh telah datang
kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu,
sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan
lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.”
(Q.S At-Taubah [9]: 128)
Ra`uf (رءوف)
dan Rahiim (رحيم) ini merupakan sifat
yang Allah nisbatkan kepada Nabi Muhammad saw. perlu kita ingat bahwa tidak
ditemukan dalam Al-Qur`an seorang nabi pun yang menyandang dua nama/sifat Allah
sekaligus, kecuali Nabi Muhammad saw. namun perlu digarisbawahi kandungan makna,
subtansi dan kapasitas sifat tersebut berbeda antara apa yang menyifati makhluk
dengan apa yang disandang oleh Allah swt. Ra`uf menurut M. Quraish Shihab
berkisar maknanya pada kelemah-lembutan dan kasih sayang, menurut
ulama lainnya Ra`uf adalah kasih sayang pengasih kepada siapa saja yang
memiliki hubungan dengannya. Sedangkan Rahiim, sebaliknya kasih sayang pengasih
kepada siapa pun yang memiliki hubungan ataupun tidak.
Sifat Ra`uf dan Rahiimnya Rasulullah
swt tercatat dalam sejarah kehidupannya, bagaimana Rasul swt. sangat pengasih
dan penyayang kepada Muslimin dan
Mu`minin bahkan kepada Yahudi dan Nasrani pun beliau hormati. Ini wajar karana
memang Nabi Muhammad saw. membawa rahmat kepada seluruh makhluk di alam raya
ini. Maka kita sebagai umatnya Nabi Muhammad saw. semestinya memliki sifat
Ra`uf dan Rahiim.
Menciptakan sikap Ra`uf dan Rahiim
dalam diri kita paling tidak ada 3 sikap yang harus kita tanamkan dalam jiwa
kita yaitu pertama, dermawan kedua, toleran dan ketiga,
setia kawan. Tiga sikap ini akan membimbing kita menjadi bagian dari masyarakat
yang ideal yaitu manusia yang terbaik, sebgaimana terekam dalam nasihat
Rasulullah saw. yaitu “manusia yang paling baik adalah yang paling banyak
manfaatnya kepada sesama”. Tidakkah kita ingin menjadi manusia yang paling
baik?.
Memahami persamaan dan perbedaan
adalah kata kunci untuk melahirkan sifat Ra`uf dan Rahiim. Beberapa bentuk
persamaan kita seperti kita sama-sama sebagai manusia yang menjadi khalifah di
muka bumi ini, persamaan juga bisa disebabkan satu bangsa, seperti Nabi Huud yang
diutus kepada kaum atau bangsanya sendiri yang diinformasikan oleh Al-Qur`an
yaitu kaum `Ad, dan juga persamaan juga bisa dikarnakan Agama. Seperti yang
tercatat dalah Al-Qur`an.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ
إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ
تُرْحَمُونَ
“Orang-orang
beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah
hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu
mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujraat [49]: 10)
Ada pun bentuk perbedaan diantaranya
yaitu yang terekam dalam Al-Qur`an.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا
خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ
لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ
عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
Hai
manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang
perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya
kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu
disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah
Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujraat [49]: 13)
Allah menjadikan kita
berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tentu dari perbedaan ini maka kita menganal
keragaman adat, tradisi, warna kulit, rabut, mata, bentuk tubuh, cara hidup
bahkan sampai pada pemikiran dan pemahaman. Keberagaman itu tidak lain Allah
swt. ciptakan adalah untuk mengenal satu sama lainnya.
Memahami bahwa kita sama-sama orang
yang beriman maka seharusnya kita memiliki rasa kasih sayang dengan saudara
seiman dan kita harus yakin bahwa Agama kitalah yang paling benar diantara yang
lain. Sikap ini adalah sikap yang internal yang harus kita tanam dalam diri
kita. Allah swt. berfirman: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam,
maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di
akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran [3]: 85), “Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali Imran [3]:
19). Ini beberapa ayat internal yang harus kita imani dengan sepenuhnya, Namun
jagan lupa bahwa Allah swt. memberika hidayah keimanan tidak kepada semua
manusia seluruhnya. Maka kita harus memahai perbeadaan ini sehingga kita pun
bisa berkasih sayang kepada mereka yang belum beriman karena sama-sama Manusia,
bahkan Allah swt. melarang kita untuk mencela orang yang belum beriman
sebagaiman tercantum dalam Al-Qur`an yang bisa kita sebut ayat external. “Dan
janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena
mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan.
Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian
kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa
yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Anaam [6]: 108).
Indonesia Adalah negara yang majemuk
yang didalamnya ada berbagai adat, teradisi dan bahkan Agama. Ketika kita tidak
memahami persamaan dan perbedaan ini maka tidak akan mungkin tercipta Indonesia
yang damai. Persamaan dalam bahasa kita bisa disebut setia kawan dan perbedaan
bisa disebut toleran. Setia kawan berarti kita mahami persamaan diantara
saudara yang terdekat dan bahkan sampai yang terjauh sedangkan toleran kita
memahami bahwa ada perbedaan yang harus kita hadapi secara bijak dan jiwa
besar. Bukankan ketika kita bersama kita boleh berbeda?.
Ada satu perbedaan yang sangat
penting kita pahami yaitu Allah swt. memberika kadar rezeki yang berbeda-beda
kepada hambanya, banyak Ayat Al-Qur`an yang menerangkan tentang ini salah
satunya yaitu.
ٱللَّهُ
يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ
ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
“Allah
melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya
dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ankabuut [29]: 62)
Dari ini kita harus paham betul
bahwa Allah swt. memberikan rezeki kapada manusia itu berbeda-beda. Ketika kita
dilimpahkan begitu banyak rezeki maka Allah swt. memerintahakan kita untuk
berbagi bahkan tidak hanya ketika berlimpah, dan ketika rezeki kita sempit maka
kita juga harus paham maka kita akan menjadi orang yang sabar.
Suatu hari seorang laki-laki datang
menemui Rasulullah saw. untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan
harinya, laki-laki itu datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah saw. pun
memberinya. Keesokan harinya ia datang
kembali untuk meminta-minta, Rasulullah saw. bersabda: “aku tidak mempunyai
apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku,
kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya. Kemudian Umar
berkata, “wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.”
Rasulullah saw. tidak menyukai perkataan umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang
laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, janganlah takut, terus
saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki
tadi, Rasulullah saw tersenyaum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Ucapan
itulah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepadaku (HR. Turmudzi).
Dermawan,
inilah salah satu aplikasi dari sifat Ra`uf dan Rahiim yang timbul ketika kita
memahami perbedaan itu. Dermawan paling tidak bisa berarti suka berbagi dengan
apa yang kita miliki. Allah swt. menciptakn manusia memiliki sikap kikir
sebagaimana firman Allah swt.
وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ
مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًۭا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن
يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًۭا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌۭ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ
ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا
تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا
“Dan
jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya,
maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya,
dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut
tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan
memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah
adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(Q.S. An-Nisa [4]: 128)
Maka dengan suka berbagi kepada sesama
berarti kita telah menghancurkan penyakit kikir agar tidak menggrogoti hati.
Ketika sikap suka berbagi ini telah menjadi karakter dalam jiwa dan diri kita
maka akan menimbulkan ikatan emosional antar individu yang pada akhirnya akan
melahirkan sikap peduli dan jauh dari egoisme. Salah satu ciri orang yang
bertakwa yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah orang yang senantiasa berbagi
baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى
ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ
ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“(yaitu)
orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit,
dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah
menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali-Imran
[3]: 134).
Maka
dengan menanamkan sikap suka berbagi kita memiliki satu ciri orang yang
bertaqwa, dan ketika kita bertaqwa tentunya Allah akan memberikan jalan keluar
dari permasalahan, mendapatkan rizki dari arah yg tidak disangka-sangka, akan
menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya dan menghapus
kesalahan-kesalahannya serta akan dilipatgandakan pahala baginya. Begitulan
menurut surah at-talaq [65] ayat 2-5.
Namun,
dalam berbagi pun ada etikanya sebagaimana Allah swt. memberika pengajaran yang
sangat jelas dalam Al-Qur`an.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى
يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ
ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ
وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا
كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Hai
orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan
menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang
menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada
Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di
atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia
bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.”
(Q.S. Al-Baqarah [2]: 264)
Sikap
Altruisme (mementingkan orang lain) dalam urusan interaksi dengan orang lain
sangat dipuji oleh Allah swt. seperti sikap para sahabat yang terekam dalam
Al-Qur`an.
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ
وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ
فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ
وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ
هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
“Dan orang-orang yang telah menempati kota
Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin),
mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan
mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang
diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan
siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.”
(Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)
Dermawan
dalam Al-Qur`an disebut dengan kata infak atau shadakoh dan banyak kata-kata
yang lainnya. Puasa Ramadhan, orang yang tidak mampu untuk melaksanakan puasa,
maka boleh diganti pada hari lain dan apabila belum mampu juga maka haru
memberi makan orang miskin. Kemudian Haji, apabila haji itu belum sempurna maka
kita dikenakan denda yang salah satu dendanya yaitu berkorban atau memberi
sedekah kepada orang miskin. Perkatikan bagaimana Allah swt. membimbing manusia
untuk peduli kepada orang lain terutama orang miskin. Sehingga, ibadah yang
kurang sempurna maka disempurnakan dengan kegiatan sosial, itu salah satunya.
Sosial
yang baik merupakan perwujudan manusia yang beriman. Manusia yang memiliki
sosial yang baik dialah manusia yang paling baik diantara manusia yang lain,
bukankah orang yang paling mulia diantara manusia di sisi Allah swt adalah
orang yang paling bertakwa. Maka memliliki sosial yang baik itulah salah satu
ciri orang yang bertakwa.
Sejatinya
manusia di muka bumi ini hanyalah sementara dan tempat kita yang sesungguhnya
adalah disisi Allah swt. Namun, ketika nanti kita pulang kehadapan-Nya, apa
bekal yang akan kita bawa? Apakah kebaikan atau keburukan?. Oleh karena itulah,
Hanya orang yang cerdas yang memahami tempat tinggal yang sesungguhnya dan
hanya orang yang pandai yang bercita-cita berjumpa dengan Yang Maha Pengasih
dan Yang Maha Penyayang. Sehingga Al-Qur`an menjadi peta agar kita tahu posisi
kita dimana, iman dan amal shalih kita jadikan kompas sebagai petunjuk arah dan
Rasulullah saw. sebagai pembimbing kita yang pada Akhrinya kita akan sampai
pada Rahmat Allah swt dan berjumpa dengan-Nya itulah nikmat yang terbesar yang
didambakan oleh orang yang beriman.
Inilah
beberapa bekal hidup yang penulis dapat dari Pesantren Nurul Qur`an selama 6
bulan yang intensif diberikan oleh bapak
Dr. Ali Nurdin MA., setiap Rabu dan Jum`at pagi. Tidak hanya nasihat yang diberikan
bapak kepada penulis bahkan bapak memberikan Al-Uswah Al-hasanah dalam
mengikapi hidup ini. Sebagai Penghafal Al-Qur`an maka sarat dengan akhlak yang
mulia, Raulullah swt. ialah penerima Al-Qur`an dan akhlak beliau adalah akhlak
Al-Qur`an. Maka penghafal Al-Qur`an harus memiliki akhlak Al-Qur`an, inilah salah
satu nasihat bapak, yang penulis selalu ingat. Di Pesantren Nurul Qur`an inilah
penulis dapatkan bimbingan untuk menjadi penghafal Al-Qur`an yang berakhlak
Al-Qur`an. Dari bimbingan 17 sikap yang bapak berikan membuat penulis selalu
antusias untuk melatih sikap-sikap itu agar menjadi karakter penulis pada
akhirnya. Menjadi penghafal Al-Qur`an yang berkarakter Al-Qur`an sehingga dapat
berkhidmat kepada Al-Qur`an dan dapat memberika manfaat kepada orang banyak
inilah impian penulis.
Ucapan
terimah kasih mungkin masih belum cukup untuk membalas semua yang diberikan
oleh bapak kepada penulis. Tapi, penulis berharap Allah swt. membalas semua
kebaikan bapak. Dan penulis berharap mendapatkan berkah dari Allah swt. melalui
hubungan guru dan murid. Apalah arti ilmu tanpa doa seorang guru dan apalah
arti murid tanpa keberkahan seorang guru.
Ayub Gunawan, 07 Februari 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar