Senin, 16 Oktober 2017

Kasih sayang Allah

Berjumpa Dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang
Berbicara kasih sayang maka kita teringat dengan suatu surah dalam Alqur`an, surah yang mungkin sering dikumandangkan ketika acara peringatan hari besar islam yaitu surat al-Isra. Surah yang bercerita bagaimana Rasulullah saw. diperjalankan pada malam hari dari Masjid Al-Haram menuju Masjid Al-Aqsa bisa disebut isra miroj dan juga ada yang menyebut surah ini dengan nama surah Bani Isra’il, karena hanya disini diceritakan tentang pembinasaan dan penghancuran Bani Isra`il.

Dalam surah al-Isra yaitu surah ke-17 ayat 70, Allah swt berfirman.
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِىٓ ءَادَمَ وَحَمَلْنَٰهُمْ فِى ٱلْبَرِّ وَٱلْبَحْرِ وَرَزَقْنَٰهُم مِّنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَفَضَّلْنَٰهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍۢ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًۭا
“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak cucu Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” ( Q.S Al-Isra [17]: 70).
Ketika kita memperhatikan ayat ini sekaligus mentadaburinya maka kita akan merasakan kasih sayang itu, paling tidak kita lihat 2 aspek kasih sayang Allah swt. dalam ayat ini. Yaitu, pertama Allah swt. memuliakan manusia pada dirinya sendiri dan yang kedua, Allah swt. memuliakan manusia diluar dari dirinya yakni Allah swt. menjadikan alam semesta ini sebagai fasilitas untuk kebutuhan dan kelangsungan hidup manusia. 
Pertama, perhatikanlah bagaiman Allah swt. memuliakan manusia pada dirinya sendiri. Memuliakan manusia dengan diberi bentuk tubuh yang bagus sebagaimana diisyaratkan pada surah at-Tin.
لَقَدْ خَلَقْنَا ٱلْإِنسَٰنَ فِىٓ أَحْسَنِ تَقْوِيمٍۢ
“sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”                               (Q.S At-Tin [95]: 4)
            Bentuk bagus tentu akan merasa kurang apa bila tidak ada yang bisa dimanfaatkan untuk digunakan dalam kelangsungan hidup manusia. Oleh karena itu, Allah swt. memberi kemampuan mendengar, melihat, berfikir dan juga berbicara,  sehingga manusia bisa berfungsi di pentas dunia ini yang diisyaratkan pada surah An-Nahl dan surah Ar-Rahman.
وَٱللَّهُ أَخْرَجَكُم مِّنۢ بُطُونِ أُمَّهَٰتِكُمْ لَا تَعْلَمُونَ شَيْـًۭٔا وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمْعَ وَٱلْأَبْصَٰرَ وَٱلْأَفْـِٔدَةَ ۙ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur. (Q.S An-Nahl [16]: 78)
عَلَّمَهُ ٱلْبَيَانَ
“Mengajarnya pandai berbicara.” (Q.S Ar-Rahman [55]: 4)
            Tidak hanya bentuk bagus yang bisa berfungsi tetapi, Allah swt. memuliakan dengan memberikan pengetahuan dan juga diberi kebabasan memilah dan memilih. Itu hanya beberapa saja karunia  Allah swt. kepada diri manusia itu sendiri. Mungkin kita tidak akan mampu untuk menceritakan semua karunia Allah swt. kepada manusia. Karena tidak mungkin kita mampu menggambarkan semua karunia Allah swt. kecuali hanya sedikit. Sebagaimana tidak mungkin satu tetes air dapat melukiskan samudra yang luas dan tidak mungkin satu butir pasir dapat menggambarkan gurun sahara.
Kedua, yaitu bagaimana Allah swt. memuliakan manusia dengan menjadikan alam semesta ini sebagai fasilitas untuk kebutuhan manusia. Coba kita perhatikan matahari, bulan dan bintang. Matahari dan bulan salah satu fungsinya yaitu penentu waktu. Matahari, bumi dan bulan yang saling berotasi dan berevolusi  maka fenomena malam dan siang pun salih berganti  sehingga kita bisa menentukan bilangan tahun-tahun dan perhitungan bulan, serta hari. Bukankan penentuan penanggalan hijriah itu berdasarkan perputaran bulan mengelilingi bumi  dan penanggalan masehi itu berdasarkan perputan bumi mengelilingi matahari. Sebgaimana firman Allah swt.
وَجَعَلْنَا ٱلَّيْلَ وَٱلنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ ۖ فَمَحَوْنَآ ءَايَةَ ٱلَّيْلِ وَجَعَلْنَآ ءَايَةَ ٱلنَّهَارِ مُبْصِرَةًۭ لِّتَبْتَغُوا۟ فَضْلًۭا مِّن رَّبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا۟ عَدَدَ ٱلسِّنِينَ وَٱلْحِسَابَ ۚ وَكُلَّ شَىْءٍۢ فَصَّلْنَٰهُ تَفْصِيلًۭا
“Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.” (Q.S Al-Isra [17]: 12)
            Bagaimana dengan bintang yang bisa menunjukan arah, itu baru beberapa benda yang ada di langit. Coba perhatikan benda-benda yang ada di bumi ini, angin, awan, air, sungai, danau, laut, samudra, gunung-gunung, binatang yang hidup di air dan daratan serta semua benda yang ada di bumi ini. Angin yang digunakan paling tidak untuk menerbangkan pesawat sehingga kita bisa berpergian ke berbagai negara dengan cepat dan mudahnya. Singkatnya, semuanya itu memiliki fungsi yang sangat besar untuk kelangsungan hidup manusia, bayangkan jika Allah swt menjadikan untuk kita malam itu terus-menerus sampai hari Kiamat atau Allah menjadikan untuk kita siang itu terus-menerus sampai hari Kiamat.
Membaca dan mentadaburi Al-qur`an maka kita akan menemukan semua penjelasaan tentang alam semesta ini yang salah satu fungsinya yaitu untuk kelangsungan hidup manusia. Maka kita akan merasakan kasih sayang Allah swt. begitu besar karena begitu banyak ayat yang membicarakan bagaimana alam ini disediankan untuk umat manusia. Inti dari itu semua terdapat pada surah al-Jathiyah
وَسَخَّرَ لَكُم مَّا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلْأَرْضِ جَمِيعًۭا مِّنْهُ ۚ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَءَايَٰتٍۢ لِّقَوْمٍۢ يَتَفَكَّرُونَ
“Dan Dia telah menundukkan untukmu apa yang di langit dan apa yang di bumi semuanya, (sebagai rahmat) daripada-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berfikir. (Q.S Al-Jathiyah [45]: 13)
            Hemat penulis, ketika kita memperhatikan diri kita dan sebagian Alam ini kita akan menemukan kasih sayang dari yang Maha Pengasih dan sekaligus Maha Penyayang. Ketika kita merasakan kasih sayang itu tentu kita akan berkeinginan untuk menemui Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu, dusta ketika kita merasakan kasih sayang seseorang kemudian kita tidak mendambakan pertemuan dengannya.
            Lalu Bagaimana kita dapat bertemu dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang itu? maka salah satu jawabannya terdapat paling tidak dalam surat  Al-kahfi dan al-Ahzab.
قُلْ إِنَّمَآ أَنَا۠ بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰٓ إِلَىَّ أَنَّمَآ إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌۭ وَٰحِدٌۭ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًۭا صَٰلِحًۭا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا
Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya". (Q.S Al-Kahfi [18]: 110)
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
Paling tidak ada 2 hal yang harus kita perhatikan agar kita bisa berjumpa dengan Sang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Pertama, Iman. beriman dengan iman yang murni bisa disebut dengan akidah yang kuat. Ketika akidah atau keimanan kita telah kuat, bagaikan pohon yang subur dan baik, akarnya menghujam kedalam bumi sehingga tidak dapat dirobohkan oleh angin dan cabangnya menjulang keatas langit, dan memberikan buah yang banyak sehingga dapat memberi manfaat bagi manusia. Sehingga ketika kita memiliki keimanan yang kokoh, maka apa pun cobaan yang ada di arena dunia ini, tidak akam mampu menghancurkan dan menjerumuskan keimanan kita. Hasil dari keimanan yang benar adalah akhlak yang mulia dan dengan akhlak itulah kita dapat memberi manfaat di pentas dunia ini. Yang pada akhirnya menjadikan hidup lebih berkualitas dan fungsi sebagai khalifah di muka bumi ini tercapai.
 Kedua, amal shalih. Paling tidak amal shalih bisa bermakna ‘perbuatan-perbuatan yang dilakukan secara sadar untuk mendatangkan manfaat dan/atau menolak kerusakan’ atau juga berarti ‘amal-amal yang sesuai dengan fungsi, sifat dan kodrat sesuatu.
Dalam Al-Qur`an kita akan banyak menjumpai ‘amal shalih (عمل صالح) pada umumnya selalu dikaitkan dengan kata Iman (إيمان), yang berarti perbuatan baik merupakan pancaran dari rasa iman kepada Allah swt. dan sebaliknnya Iman adalah sebuah syarat diterimannya amal shalih. Oleh karenanya, Iman dan Amal Shalih tidak bisa dipisahkan.
Manusia adalah makhluk individual ketika ia bermunajat kepada Allah swt. itulah iman dan sekaligus manusia adalah makhluk sosial ketika dia berinteraksi dengan manusia itulah alam shalih. Lalu timbul pertanyaan bagaimana cara yang baik untuk berinteraksi dengan manusia? Siapa yang bisa dijadikan tauladan untuk hal ini? siapa yang bisa dijadikan penasihatnya?

Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, penulis ingin mengajak untuk memperhatikan kisah Nabi Musa as. Kisah Nabi Musa yang terdapat pada surah Al-A`raf [7] ayat 142-155, satu saja kita ambil hikmah dari cerita ini yaitu ketika Nabi Musa as. meninggalkan Kaumnya untuk memenuhi panggilan Allah swt. maka kaumnya diuji oleh Allah swt. maka kaumnya disesatkan oleh Samiri yang terdapat kisahnya di surah Taha [20]: 85. Kaumnya Nabi Musa ditinggalkan Oleh Nabinya yaitu Nabi Musa as. Hanya 40 hari tapi dalam waktu yang singkat itu kamunya tersesat dan menyembah selain Allah swt. karena meraka tidak mendapatkan tauladan dan nasihat lagi dari nabinya. Bagaiman dengan Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi kita, berapa lama kita ditinggalkan oleh beliau. Maka yang patut dijadikan tauladan dan penasihat untuk mengarungi bahtra kehidupan yang sarat dengan cobaan hanyalah Nabi Muhammad saw. sebagaimana diisyaratkan yang terekam dalam Al-Qur`an.
لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌۭ لِّمَن كَانَ يَرْجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلْيَوْمَ ٱلْءَاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًۭا
Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Ahzab [33]: 21).
Nabi Muhammad saw. dari sekian banyak sifat yang dimiliki Rasul saw. ada 2 sifat yang patut kita contoh dan sifat itu disebutkan saling berdampingan. Allah swt berfirman:
لَقَدْ جَآءَكُمْ رَسُولٌۭ مِّنْ أَنفُسِكُمْ عَزِيزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيصٌ عَلَيْكُم بِٱلْمُؤْمِنِينَ رَءُوفٌۭ رَّحِيمٌۭ
“Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.” (Q.S At-Taubah [9]: 128)
             Ra`uf (رءوف) dan Rahiim (رحيم) ini merupakan sifat yang Allah nisbatkan kepada Nabi Muhammad saw. perlu kita ingat bahwa tidak ditemukan dalam Al-Qur`an seorang nabi pun yang menyandang dua nama/sifat Allah sekaligus, kecuali Nabi Muhammad saw. namun perlu digarisbawahi kandungan makna, subtansi dan kapasitas sifat tersebut berbeda antara apa yang menyifati makhluk dengan apa yang disandang oleh Allah swt. Ra`uf menurut M. Quraish Shihab berkisar maknanya pada kelemah-lembutan dan kasih sayang, menurut ulama lainnya Ra`uf adalah kasih sayang pengasih kepada siapa saja yang memiliki hubungan dengannya. Sedangkan Rahiim, sebaliknya kasih sayang pengasih kepada siapa pun yang memiliki hubungan ataupun tidak.
            Sifat Ra`uf dan Rahiimnya Rasulullah swt tercatat dalam sejarah kehidupannya, bagaimana Rasul swt. sangat pengasih dan penyayang kepada  Muslimin dan Mu`minin bahkan kepada Yahudi dan Nasrani pun beliau hormati. Ini wajar karana memang Nabi Muhammad saw. membawa rahmat kepada seluruh makhluk di alam raya ini. Maka kita sebagai umatnya Nabi Muhammad saw. semestinya memliki sifat Ra`uf dan Rahiim.
            Menciptakan sikap Ra`uf dan Rahiim dalam diri kita paling tidak ada 3 sikap yang harus kita tanamkan dalam jiwa kita yaitu pertama, dermawan kedua, toleran dan ketiga, setia kawan. Tiga sikap ini akan membimbing kita menjadi bagian dari masyarakat yang ideal yaitu manusia yang terbaik, sebgaimana terekam dalam nasihat Rasulullah saw. yaitu “manusia yang paling baik adalah yang paling banyak manfaatnya kepada sesama”. Tidakkah kita ingin menjadi manusia yang paling baik?.
            Memahami persamaan dan perbedaan adalah kata kunci untuk melahirkan sifat Ra`uf dan Rahiim. Beberapa bentuk persamaan kita seperti kita sama-sama sebagai manusia yang menjadi khalifah di muka bumi ini, persamaan juga bisa disebabkan satu bangsa, seperti Nabi Huud yang diutus kepada kaum atau bangsanya sendiri yang diinformasikan oleh Al-Qur`an yaitu kaum `Ad, dan juga persamaan juga bisa dikarnakan Agama. Seperti yang tercatat dalah Al-Qur`an.
إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌۭ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (Q.S. Al-Hujraat [49]: 10)
            Ada pun bentuk perbedaan diantaranya yaitu yang terekam dalam Al-Qur`an.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَٰكُم مِّن ذَكَرٍۢ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَٰكُمْ شُعُوبًۭا وَقَبَآئِلَ لِتَعَارَفُوٓا۟ ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ ٱللَّهِ أَتْقَىٰكُمْ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌۭ
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (Q.S. Al-Hujraat [49]: 13)
            Allah menjadikan kita berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, tentu dari perbedaan ini maka kita menganal keragaman adat, tradisi, warna kulit, rabut, mata, bentuk tubuh, cara hidup bahkan sampai pada pemikiran dan pemahaman. Keberagaman itu tidak lain Allah swt. ciptakan adalah untuk mengenal satu sama lainnya.
            Memahami bahwa kita sama-sama orang yang beriman maka seharusnya kita memiliki rasa kasih sayang dengan saudara seiman dan kita harus yakin bahwa Agama kitalah yang paling benar diantara yang lain. Sikap ini adalah sikap yang internal yang harus kita tanam dalam diri kita. Allah swt. berfirman: “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Q.S. Ali Imran [3]: 85), “Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam.” (Q.S. Ali Imran [3]: 19). Ini beberapa ayat internal yang harus kita imani dengan sepenuhnya, Namun jagan lupa bahwa Allah swt. memberika hidayah keimanan tidak kepada semua manusia seluruhnya. Maka kita harus memahai perbeadaan ini sehingga kita pun bisa berkasih sayang kepada mereka yang belum beriman karena sama-sama Manusia, bahkan Allah swt. melarang kita untuk mencela orang yang belum beriman sebagaiman tercantum dalam Al-Qur`an yang bisa kita sebut ayat external. “Dan janganlah kamu memaki sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka nanti akan memaki Allah dengan melampaui batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami jadikan setiap umat menganggap baik pekerjaan mereka. Kemudian kepada Tuhan merekalah kembali mereka, lalu Dia memberitakan kepada mereka apa yang dahulu mereka kerjakan.” (Q.S. Al-Anaam [6]: 108).
            Indonesia Adalah negara yang majemuk yang didalamnya ada berbagai adat, teradisi dan bahkan Agama. Ketika kita tidak memahami persamaan dan perbedaan ini maka tidak akan mungkin tercipta Indonesia yang damai. Persamaan dalam bahasa kita bisa disebut setia kawan dan perbedaan bisa disebut toleran. Setia kawan berarti kita mahami persamaan diantara saudara yang terdekat dan bahkan sampai yang terjauh sedangkan toleran kita memahami bahwa ada perbedaan yang harus kita hadapi secara bijak dan jiwa besar. Bukankan ketika kita bersama kita boleh berbeda?.
            Ada satu perbedaan yang sangat penting kita pahami yaitu Allah swt. memberika kadar rezeki yang berbeda-beda kepada hambanya, banyak Ayat Al-Qur`an yang menerangkan tentang ini salah satunya yaitu.

ٱللَّهُ يَبْسُطُ ٱلرِّزْقَ لِمَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِۦ وَيَقْدِرُ لَهُۥٓ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ بِكُلِّ شَىْءٍ عَلِيمٌۭ
“Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan baginya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.S. Al-Ankabuut [29]: 62)
            Dari ini kita harus paham betul bahwa Allah swt. memberikan rezeki kapada manusia itu berbeda-beda. Ketika kita dilimpahkan begitu banyak rezeki maka Allah swt. memerintahakan kita untuk berbagi bahkan tidak hanya ketika berlimpah, dan ketika rezeki kita sempit maka kita juga harus paham maka kita akan menjadi orang yang sabar.
            Suatu hari seorang laki-laki datang menemui Rasulullah saw. untuk meminta-minta, lalu beliau memberinya. Keesokan harinya, laki-laki itu datang lagi dan kembali meminta, Rasulullah saw. pun memberinya.  Keesokan harinya ia datang kembali untuk meminta-minta, Rasulullah saw. bersabda: “aku tidak mempunyai apa-apa saat ini. Tapi, ambillah yang kau mau dan jadikan sebagai utangku, kalau aku mempunyai sesuatu kelak, aku yang akan membayarnya. Kemudian Umar berkata, “wahai Rasulullah janganlah memberi diluar batas kemampuanmu.” Rasulullah saw. tidak menyukai perkataan umar tadi. Tiba-tiba, datang seorang laki-laki dari Anshar sambil berkata, “Ya Rasulullah, janganlah takut, terus saja berinfak. Jangan khawatir dengan kemiskinan.” Mendengar ucapan laki-laki tadi, Rasulullah saw tersenyaum, lalu beliau bersabda kepada Umar, “Ucapan itulah yang diperintahkan oleh Allah swt. kepadaku (HR. Turmudzi).
Dermawan, inilah salah satu aplikasi dari sifat Ra`uf dan Rahiim yang timbul ketika kita memahami perbedaan itu. Dermawan paling tidak bisa berarti suka berbagi dengan apa yang kita miliki. Allah swt. menciptakn manusia memiliki sikap kikir sebagaimana firman Allah swt.
وَإِنِ ٱمْرَأَةٌ خَافَتْ مِنۢ بَعْلِهَا نُشُوزًا أَوْ إِعْرَاضًۭا فَلَا جُنَاحَ عَلَيْهِمَآ أَن يُصْلِحَا بَيْنَهُمَا صُلْحًۭا ۚ وَٱلصُّلْحُ خَيْرٌۭ ۗ وَأُحْضِرَتِ ٱلْأَنفُسُ ٱلشُّحَّ ۚ وَإِن تُحْسِنُوا۟ وَتَتَّقُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرًۭا
“Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suaminya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir. Dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. An-Nisa [4]: 128)
            Maka dengan suka berbagi kepada sesama berarti kita telah menghancurkan penyakit kikir agar tidak menggrogoti hati. Ketika sikap suka berbagi ini telah menjadi karakter dalam jiwa dan diri kita maka akan menimbulkan ikatan emosional antar individu yang pada akhirnya akan melahirkan sikap peduli dan jauh dari egoisme. Salah satu ciri orang yang bertakwa yang disebutkan dalam Al-Qur`an adalah orang yang senantiasa berbagi baik dalam keadaan lapang maupun sempit.
ٱلَّذِينَ يُنفِقُونَ فِى ٱلسَّرَّآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَٱلْكَٰظِمِينَ ٱلْغَيْظَ وَٱلْعَافِينَ عَنِ ٱلنَّاسِ ۗ وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلْمُحْسِنِينَ
“(yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Q.S. Ali-Imran [3]: 134).
Maka dengan menanamkan sikap suka berbagi kita memiliki satu ciri orang yang bertaqwa, dan ketika kita bertaqwa tentunya Allah akan memberikan jalan keluar dari permasalahan, mendapatkan rizki dari arah yg tidak disangka-sangka, akan menjadikan kemudahan baginya dalam urusannya dan menghapus kesalahan-kesalahannya serta akan dilipatgandakan pahala baginya. Begitulan menurut surah at-talaq [65] ayat 2-5.
Namun, dalam berbagi pun ada etikanya sebagaimana Allah swt. memberika pengajaran yang sangat jelas dalam Al-Qur`an.
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تُبْطِلُوا۟ صَدَقَٰتِكُم بِٱلْمَنِّ وَٱلْأَذَىٰ كَٱلَّذِى يُنفِقُ مَالَهُۥ رِئَآءَ ٱلنَّاسِ وَلَا يُؤْمِنُ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ ۖ فَمَثَلُهُۥ كَمَثَلِ صَفْوَانٍ عَلَيْهِ تُرَابٌۭ فَأَصَابَهُۥ وَابِلٌۭ فَتَرَكَهُۥ صَلْدًۭا ۖ لَّا يَقْدِرُونَ عَلَىٰ شَىْءٍۢ مِّمَّا كَسَبُوا۟ ۗ وَٱللَّهُ لَا يَهْدِى ٱلْقَوْمَ ٱلْكَٰفِرِينَ
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir.” (Q.S. Al-Baqarah [2]: 264)
Sikap Altruisme (mementingkan orang lain) dalam urusan interaksi dengan orang lain sangat dipuji oleh Allah swt. seperti sikap para sahabat yang terekam dalam Al-Qur`an.
وَٱلَّذِينَ تَبَوَّءُو ٱلدَّارَ وَٱلْإِيمَٰنَ مِن قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِى صُدُورِهِمْ حَاجَةًۭ مِّمَّآ أُوتُوا۟ وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰٓ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۭ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِۦ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ
 “Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) 'mencintai' orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung. (Q.S. Al-Hasyr [59]: 9)
Dermawan dalam Al-Qur`an disebut dengan kata infak atau shadakoh dan banyak kata-kata yang lainnya. Puasa Ramadhan, orang yang tidak mampu untuk melaksanakan puasa, maka boleh diganti pada hari lain dan apabila belum mampu juga maka haru memberi makan orang miskin. Kemudian Haji, apabila haji itu belum sempurna maka kita dikenakan denda yang salah satu dendanya yaitu berkorban atau memberi sedekah kepada orang miskin. Perkatikan bagaimana Allah swt. membimbing manusia untuk peduli kepada orang lain terutama orang miskin. Sehingga, ibadah yang kurang sempurna maka disempurnakan dengan kegiatan sosial, itu salah satunya.
Sosial yang baik merupakan perwujudan manusia yang beriman. Manusia yang memiliki sosial yang baik dialah manusia yang paling baik diantara manusia yang lain, bukankah orang yang paling mulia diantara manusia di sisi Allah swt adalah orang yang paling bertakwa. Maka memliliki sosial yang baik itulah salah satu ciri orang yang bertakwa.
Sejatinya manusia di muka bumi ini hanyalah sementara dan tempat kita yang sesungguhnya adalah disisi Allah swt. Namun, ketika nanti kita pulang kehadapan-Nya, apa bekal yang akan kita bawa? Apakah kebaikan atau keburukan?. Oleh karena itulah, Hanya orang yang cerdas yang memahami tempat tinggal yang sesungguhnya dan hanya orang yang pandai yang bercita-cita berjumpa dengan Yang Maha Pengasih dan Yang Maha Penyayang. Sehingga Al-Qur`an menjadi peta agar kita tahu posisi kita dimana, iman dan amal shalih kita jadikan kompas sebagai petunjuk arah dan Rasulullah saw. sebagai pembimbing kita yang pada Akhrinya kita akan sampai pada Rahmat Allah swt dan berjumpa dengan-Nya itulah nikmat yang terbesar yang didambakan oleh orang yang beriman.
Inilah beberapa bekal hidup yang penulis dapat dari Pesantren Nurul Qur`an selama 6 bulan yang intensif diberikan oleh  bapak Dr. Ali Nurdin MA., setiap Rabu dan Jum`at pagi. Tidak hanya nasihat yang diberikan bapak kepada penulis bahkan bapak memberikan Al-Uswah Al-hasanah dalam mengikapi hidup ini. Sebagai Penghafal Al-Qur`an maka sarat dengan akhlak yang mulia, Raulullah swt. ialah penerima Al-Qur`an dan akhlak beliau adalah akhlak Al-Qur`an. Maka penghafal Al-Qur`an harus memiliki akhlak Al-Qur`an, inilah salah satu nasihat bapak, yang penulis selalu ingat. Di Pesantren Nurul Qur`an inilah penulis dapatkan bimbingan untuk menjadi penghafal Al-Qur`an yang berakhlak Al-Qur`an. Dari bimbingan 17 sikap yang bapak berikan membuat penulis selalu antusias untuk melatih sikap-sikap itu agar menjadi karakter penulis pada akhirnya. Menjadi penghafal Al-Qur`an yang berkarakter Al-Qur`an sehingga dapat berkhidmat kepada Al-Qur`an dan dapat memberika manfaat kepada orang banyak inilah impian penulis.
Ucapan terimah kasih mungkin masih belum cukup untuk membalas semua yang diberikan oleh bapak kepada penulis. Tapi, penulis berharap Allah swt. membalas semua kebaikan bapak. Dan penulis berharap mendapatkan berkah dari Allah swt. melalui hubungan guru dan murid. Apalah arti ilmu tanpa doa seorang guru dan apalah arti murid tanpa keberkahan seorang guru.


Ayub Gunawan, 07 Februari 2017


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

arsip

al Bagowi