Senin, 16 Oktober 2017

living Al-Qur`an

Shalat Subuh Berjamaah Pada Minggu Ke-3
Oleh: Ayub Gunawan
  1. Pendahuluan
Al-Qur`an mengingatkan akan kerugian kehidupan manusia di alam fana dalam Perspektif waktu, kecuali bagi orang yang mengisi dan menjalankan kehidupan dengan beriman dan beramal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran. Dalam dunia akademik, waktu dikenal sebagai besaran fisika seperti halnya suhu yang dirasakan sebagai panas atau dingin. Bisa juga seperti massa yang dirasakan berat atau ringan, atau seperti ukuran ruang, panjang atau volume yang dengannya kita paham ukuran besar atau kecil. Waktu tidak bisa dilihat, didengar dan dirasakan, tetapi waktu senantiasa menyertai kehidupan. Tidak seperti besaran fisika lainnya, waktu terus berubah dan tidak bisa dihambat. Manusia tidak bisa mengendalikan waktu, namun semetinya kita bisa memanfaatkannya. Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, waktu lepas begitu saja dan manusia akan menjadi manusia yang rugi.
Mencari makna atas nama-nama waktu dan peristiwa dalam Al-Qur`an merupakan sesuatu yang menarik dalam perspektif sains dan spiritualitas. Dalam Al-Qur`an, Allah menyebutakan banyak nama waktu di dalam sejumlah ayat-Nya, ada yang bersifat umum dan ada yang bersifat khusus.
Isyarat waktu dalam Al-Qur`an dapat dikelompokkan sebagai berikut.[1]
Pertama, waktu di dalam pengertian tanpa batas yakni seperti Sa`ah atau saat/waktu (al-An`am/6: 31, at-Taubah/9:117).
Kedua,  waktu dalam pengertian di dalam bilangan jumlah tertentu/ siklus semacam `am, sinin, dan sanah atau tahun (at-Taubah/9: 126, Yunus/10: 5, al-Hajj/22: 47), syahr atau bulan (al-Baqarah/2: 185), dan yaum atau hari (as-Sajdah/32: 5). Di dalam hal ini, Al-Qur`an tidak menyembutkan adanya waktu yang disebutkan dengan minggu/pekan.
Ketiga, waktu yang merupakan bagian dari fenomena malam atau siang hari, seperti disebutkan dengan istilah-istilah ibkar, gadah, bukrah dan isyraq atau pagi (Ali Imran/3: 41, al-An`am/6: 52, Maryam/19: 11 dan Sad/38: 18), `asyiyi dan asal atau petang (Ali `Imran/3: 41, al-A`raf/7: 205), dan al-`asr atau sore (al-`Asr/103:1).
Keempat,  waktu yang merupakan bagian dari sebutan-sebutan yang menunjukan lebih kecil dari penggalan waktu yang masuk ke dalam kategori ketiga, misalnya yaitu tarafayin- nahar atau tepi siang (Hud/11: 114) zulafamminal-lail atau bagian awal malam, liduluqisy-syamsy atau tergelincir atau gelap malam (al-Isra/17: 78), gasaqil-lail atau gelap malam (al-Isra/17: 78), serta fajr, an-nujum, dan sahar atau menjelang pagi (al-Baqarah/2: 187, at-Tur/52: 49, dan al-Qamar/54:34)
Kelima, bagian-bagian waktu yang dikaitkan dengan nama salat, semcam ad-duha atau sepenggalan naik (ad-Duha/93: 1), al-`asr atau sore (al-`Asr/103: 1) dan subh atau subuh/pagi (at-Takwir/81: 18).
Keenam, waktu relatif, diantaranya dalam Surah al-Hajj/22: 47 dan Fatir/35: 5 mengungkapkan “seribu tahun di bumi” sebanding dengan “sehari di sisi Allah”.
Memang kita tidak akan pernah mampu mengendalikan waktu, namun semesetinya kita bisa memanfaatkannya. Jika kita tidak bisa memanfaatkannya maka waktu akan lepasa dan meninggalkan kita begitu saja tanpa kesan apapun disanalah kita menjadi orang yang paling merugi. Maka menjadi sangat penting untuk memperhatikan waktu itu.
Subuh adalah salah satu waktu yang diisyaratkan dalam Al-Qur`an. Subuh atau waktu subuh, menarik untuk kita bahas. Waktu subuh adalah waktu pergantian malam dan siang. Waktu dimana kita sedang menikmati istirahat saat udara dingin, di atas kasur yang empuk dan selimut yang hangat. Waktu dimana kita benar-benar sedang terlelap, tidak terjaga dan kurang wapada.
Allah SWT memerintahkan kita untuk bangun dan menegakkan shalat di waktu subuh, sebagaimana diisyaratkan dalam Al Qur`an surat al-Israa, 17: 78. Shalat subuh juga merupakan satu diantara shalat yang wajib lima waktu yang mempunyai kekhususan dari shalat lainnya dan mempunyai keutamaan yang luar biasa. Pada saat inilah pergantian malam dan siang dimulai. Pada saat ini pula malaikat malam dan siang berganti tugas (HR. Bukhari).
Kekhususan dan keutamaan shalat subuh ini menjadikan penulis ingin meneliti lebih dalam tentang fenomena shalat subuh yang ada di masyarakat. Ada satu masjid yang menjadi penelitian penulis, yaitu masjid yang bernama Inti Iman. Di sana terdapat teradisi yang baru di mulai bulan pada bulan Januari 2017, pada setiap hari Ahad di Minggu ke-3, sekitar 5 bulan telah berjalan. Yaitu teradisi shalat subuh berjamaah yang di dalam diisi dengan kegiatan-kegitan yang positif. Sehingga kegiatan ini mengbangun masyarakat yang memili jiwa dan mental yang kuat.
Penulis memperhatikan keutamaan dan kekhususan shalat subuh ini, diantaranya: shalat subuh salah satu penyebab masuk surga, penghalang masuk neraka, berada di dalam jamian Allah SWT, dihitung seperti shalat semalam penuh, disaksikan para malaikat dan masih banyak keutamaan dan kekhususan yang lain. Bahkan ditinjau dari kacamata kesehatan shalat subuh itu memiliki keutamaan tersendiri.
Dengan demikian, atas dasar keutamaan shalat subuh, penulis ingin mengangkat tema yang berkaitan erat dengan shalat subuh pada tataran realitas masyarakat, yang menjadi kajian konsens Living Qur`an and Hadis. Khususnya fenomena shalat subuh yang terlah menjadi teradisi di masjid Inti Iman.

  1. Menganalisa Shalat Subuh Berjamah Minggu ke-3
  1. Sejarah Mulainya Teradisi Shalat Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Indonesia merupakan negara yang mempunya penduduk muslim terbanyak di dunia. Dari ujuang timur hingga ujung barat. Dan juga sejarang membuktikan kerajaan-kerajan yang pernah ada di Indonesia dan mempunyai kekutaan besar adalah kerajaan-kerjaan Islam. Setelah masa kerjaan kemudian masa penjajahan, pada masa ini pun Islam sangat penting peranannya untuk kemerdekaan dari penjajah.
Ketika ada satu bagain tubuh yang terluka maka seluruh tubuh akan berasakan sakit. Itulah yang di bangun dalam mind set islam. Sehingga terbentuk ukuah islamiah yang begitu mendalam. Pada 27 September 2016, umat Islam yang ada di Indonesai merasa dinodai oleh salah satu Gubernur sehingga menimbulkan reaksi yang kita kenal dengan aksi bela islam yaitu, rangkaian aksi unjuk rasa yang diadakan di Indonesia, terutama di kota jakarta sebagai reaksi atas pernyataan Gubernur jakarta, Basuki Tjahaja Purnama yang mengeluarkan pernyataan yang dianggap menistakan agama dalam kunjungan kerjanya di kepulauan seribu.  Ada yang mendukung dan ada pula yang mengecam. Namun jauh dari itu uniknya melalui reaksi itu ada satu fenomena yang membuat umat Islam menjadi bangkit untuk bersatu. Penulis memeperhatikan fenomena yang membuat umat islam bersatu satu dia antaranya yaitu Shalat subuh berjamaan. Setelah beberapa kali di adakan aksi bela islam, banyak mesjid-mesjid untuk mengadakan acara atau doa bersama untuk keamanan dan kedamaian di indonesia ini.
Satu diantara beribu-ribu mesjid yaitu Mesjid Inti Iman. Pada tahun baru Islam Hari Sabtu Tanggal 31 Desember 2016 diadakan pengajian untuk menyambut tahun baru Islam di Mesjid Inti Iman, yang di isi oleh ust. DR. H. Ali Nurdin, MA.[2] Pada saat itu beliau menghimbau agar Mesjid Inti Iman mengadakan Shalat Subuh Berjamaah yang diisi dengan ceramah dah ramah tamah, pada saat itu ramai sekali mesjid-mesjid mengadakan Subuh berjamaah yang disi dengan ceramah.
Maka setelah terwujudnya Shalat Subuh Berjamaah yang kemudian diisi dengan ceramah dan ramah tamah maka hal ini menjadi teradisi tersendiri bagi Mesjid Inti Iman  pada kemudiannya acara ini di rutinkan pada setiap hari Minggu pada Minggu ke 3.
Menurut salah satu dari jamaah Mesjid Inti Iman, yang bernama Sofwan Salahuddin[3]. Acara semacam memiliki tujuan sebagai berikut,
1.                            Memakmurkan mesjid dengan Ibadah Horizontal dan Vertikal
2.                            Membangkitkan rasa kebersamaan dalam Masyarakat
3.                            Mengingatkan pentingnya subuh Berjamaah.
Dengan beberapa tujuan ini maka akan terwujud masyarakat ideal.

  1. Deskipsi subuh berjamaah dan filosifinya
Deskripsi teradisi ini, sebenarnya sama saja dengan Shalat Subuh Berjamaah yang sering dilakukan oleh Masyarakat luas yaitu mengundang para jamaah untuh hari pengajian subuh dan DKM memanggil penceramah untuk mengisi pengajian setelah subuh seputar kajian Al-Qur`an dan Hadis yang mampu mengingatkan kita akan pentingnya menyikapai kehidupan di alam yang fana ini. Dan juga masyarakat  diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam menyediakan konsumsi yang akan di hidangkan pada akhri acara. Maka secara otomatis mesjid itu menjadi Makmur dan sy`ar agama menjadi tumbuh. Karena, teradisi ini tidak hanya di peruntukan untuk orang tua saja, namum bahkan orang tua dihimbau untuk membawa anak-anak meraka dalam teradisi ini. Baik anak balita, remaja, orang dewasa dan bahkan orang yang telah lanjut usia pun berkumpul dan berbondong-bondong menuju mesjid pasa waktu subuh.
Dengan format seperti ini, sudah tergambar dengan nyata filosofi dari setiap formulasi. Di antarannya. Terbentuknya menjadikan masyarakat yang أقيموا الصلاة وأتوا الزكاة  menurut ust. DR. H. Ahmad Husnul Hakim IMZI, S.Q., M.A.[4] potongan ayat ini bukan memberitahun tentang rukun Islam, namun potongan ayat ini yaitu menggabarkan manusia yang sempurna yaitu manusia yang memiliki peribada yang individual dan manusia yang memiliki peribadai yang sosial. Individual ketika menghadap Allah dan sosial ketika berhadapan dengan masyarakat. Inilah satu diantara filosofi teradisi ini.
Dilihat dari terdisi ini dilakukan oleh lapisan masyarakat yang memiliki latar belakang yang berbeda, ada sebagai pegawai negeri, ibu rumah tangga, asisten rumah tangga, para asatid dan asatizah, anak-anak serta parasantri. Tentunya akan menjadikan momen penting untuk menjadi media dan laboratorium pendidikan serta penempaan mental. Mental yang kuat dan berjiwa besar.
Antusias masyarakat dalam melestariakn tradisi ini, selain ingin menjalin silaturrahmi juga karena mereka ingin menjadi orang-orang yang sehat rohani dan jasmaninya. Karena manfaat dari shalat subuh berjamahan tidak hanya terbatas pada kesahatan rohani namun juga kesehatan jasmani yang akan di jelaskan pada keterangan argumentasi Shalat subuh berjamaah.
Taggapan dari masyarakat terkait teradisi ini sangatlah baik. Terlihat efek dari shalat subuh berjamaah, yaitu sesama tetangga dan satu komplek itu sangat harmonis dan tidak kalah penting yaitu setiap Shalat subuh meskipun bukan minggu ke 3, itu mesjid Inti Iman penuh dengan jamaah bahkan kadang sampai tidak muat di dalam mesjid sehingga harus menggunakan teras mesjid.

  1.  Argumentasi Penerapan Tradisi Shalat Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Shalat merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadatain. Dan amal yang paling utama setelah syahadatain. Barangsiapa menolak kewajibannya karena bodoh maka ia harus dipahamkan tentang wajibnya shalat tersebut. Barangsiapa tidak meyakini tentang wajibnya shala (menentang) maka dia telah kafir. Barangsiapa yang meninggalkan shalat karena menggampangkan atau malas, maka wajib baginya bertaubat kepada Allah. Rasulullah bersabda: “Pemisah diantara kita dan mereka (orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah kafir”.
Shalat dalam Islam mempunyai kedudukan yang tidak disamai oleh ibadah-ibadah lainnya. Ia merupakan tiangnya agama ini, yang tentunya tidak akan berdiri tegak kecuali dengan adanya tiang tersebut. Shalat adalah kewajiban kali diwajibkan Allah dan nantinya akan menjadi amalan pertama yang dihisab diantara amalan-amalan manusia serta merupakan warisan Rasulullah.
Dari lima waktu shalat yang ada tentunya dari setiap waktu-waktu yang diatur Allah itu memiliki kelebiahan dan keutamaan masing-masing. Dalam penelitian ini, penulis ingin memperhatiakan lebih dalam tentang satu waktu dari lima waktu yaitu shalat subuh. Melalui penelitian sederhana yang menjadi objek nya yaitu teradisi shalat subuh berjamaah minggu ke-3 di Mesjid Inti Iman yang berada di perumahan Inti Iman Persada, Pamulang, Tanggerang Selatan. Penulis menemukan beberapa pandangan tentang shalat subuh berjamaah ini. Dikarnakan penulis bertanya kepada beberapa orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Beberapa argumentasi masyarakat yang penulis dapatkan.
Menurut ust. Saiful Arif,[5] “Shalat Subuh berjamaah itu merupakan salah satu bentuk syiar agama”. Sehingga orang yang menjalankan shalat subuh berjamaah itu dia telah memiliki satu dantara banyaka ciri orang yang memiliki ketakwaan hati. Syiar diagungkan sebagai manifestasi rasa takwa. Firman-Nya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar, Maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati” (QS al-Hajj [22]: 32)
Ustadz Nurmawan, S.Si. ketika beliau mengisi ceramah pada Acara Shalat subuh berjamaah tepatnya pada tanggal 16 April 2017 menerangkan  begitu lengkap tentang shalat subuh dan sekaligus mewakili argumentasi urgensinya Shalat Subuh berjamaah,
Shalat Shubuh Mengandung Keagungan dan Keistimewaan
Waktu shubuh maka Allah  Subhanahu Wa Ta'ala  bersumpah, dengan adanya sumpah berarti ada keagungan dan keistimewaan didalam waktu shubuh (fajar). Allah Subhanahu Wa Ta'ala  berfirman,
وَالْفَجْرِ
“Demi fajar.”_ (QS. Al-Fajr : 1).
Berikut keagungan dan keistimewaan didalam waktu shubuh (fajar) :
Pertama, Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, mendapat pahala separoh malam, yaitu shalat isya' atau shalat malam (taraweh), sedangkan shalat shubuh mendapatkan pahala sepanjang malam.
Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa yang shalat (tarawih) bersama imam hingga berpaling selesai, maka ia dicatat seperti melakukan shalat sepanjang malam.” (Shahih, HR. Ahmad, Tirmidzi, Irwa'ul Ghalil: 447 al-Albani).
Demikian pula pahala yang didapat bila shalat subuh bersama Imam. Sebagaimana sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
مَنْ صَلَّى الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
"Barangsiapa shalat shubuh berjamaah maka seakan ia shalat sepanjang malam.”_(HR. Muslim: 656).
Kedua, Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, setiap malam Allah  Subhanahu Wa Ta'ala turun ke bumi, disepertiga malam terakhir memberikan ampunan.
Sebagaimana sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
"Allah Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam yang terakhir dan berfirman : Barang siapa yang berdoa kepadaKu Aku akan kabulkan. Barang siapa yang meminta kepadaKu Aku akan beri. Barang siapa yang meminta ampunan (beristighfar) kepadaKu Aku akan ampuni." (H.R Al-Bukhari dan Muslim).
Ketiga, Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, menjadi cahaya dan penerang di hari kiamat.
Allah  Subhanahu Wa Ta'ala_ berfirman,

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ

"(yaitu) pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah keberuntungan yang besar". (QS. Al-Hadid : 12).
Allah  Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ
"Pada hari ketika orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan berkata kepada orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan di sebelah luarnya dari situ ada siksa"._ (QS. Al-Hadid : 13).
Sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
عن بُريدَة – رضي الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ .
Dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Di dalam hadist yang lain Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam  bersabda,
مَنْ مَشَى فِي ظُلْمَةِ اللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ إِلَى صَلَاةٍ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ بِنُورٍيَوْمَ الْقِيَامَة
"Barangsiapa berjalan di kegelapan malam menuju masjid, kelak di hari kiamat menghadap Allah -azza wa jalla- dengan cahaya.” (HR. Thabrani dengan sanad yang shahih).
Cahaya dan penerang di syirot bagi orang munafiq hilang, maka mereka bersandar ke orang mukmin dan oleh orang mukmin suruh kembali ke Allah karena yang memberikan cahaya hanya Allah tetapi mereka tidak mendapatkan cahaya. Ketahuilah bahwa cahaya itu adalah amalan kita saat di dunia dan salah satu cahaya yaitu shalat shubuh.
Keempat, Keagungan dan Keistimewaan lain shalat bardain, yaitu shalat azhar dan shubuh, masuk surga.
Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
  مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ الْجَنَّةَ
"Barangsiapa mengerjakan shalat pada dua waktu dingin (Shubuh dan ashar), maka dia akan masuk surga." (HRBukhori 574 & Muslim 635 ).
Kelima, Keagungan dan Keistimewaan lain, shalat shubuh lebih baik dunia dan isinya.
Banyak orang tidak mengetahuinya ternyata ada amalan ringan dengan pahala yang besar ketika fajar. Sebagaimana sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
 رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
"Dua rakaat  (sholat sunah)  fajar lebih baik daripada dunia dan seisinya." (HR Muslim 725).
Keenam, Keagungan dan Keistimewaan lain, shalat shubuh ketika saat adzan, adalah waktu mendapatkan syafaat.
Nabi  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِي الْوَسِيْلَةَ، فَإِنهَّاَ مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْا أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ لِي الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin, kemudian bershalawatlah untukku, karena siapa yang bershalawat untukku niscaya Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian ia meminta kepada Allah al-wasilah atasku, karena al-wasilah ini merupakan sebuah tempat/kedudukan di surga, di mana tidak pantas tempat tersebut dimiliki kecuali untuk seseorang dari hamba Allah dan aku berharap, akulah orangnya. Siapa yang memintakan al-wasilah untukku maka ia pasti beroleh syafaat.” (HR. Muslim no. 847).
Ketujuh,Keagungan dan Keistimewaan lain, yaitu sedekah shubuh.
Nabi  Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang artinya, "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, "Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak", dan lainnya berkata, "Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil)".
(HR. Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 1442 dan Shahih Muslim: 1010).
Kedelapan, Keagungan dan Keistimewaan lain, kegiatan shubuh disaksikan oleh malaikat, sehingga do'a lebih mustajab.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ قُرْآَنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Sesungguhnya shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’ : 78)
Kesembilan, yang terakhir dari Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, mendapat berlindungan dari Allah.
Sabda Nabi  Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
من صلى الصبح فهو في ذِمَّةِ الله ( رواه مسلم )
"Barang siapa yang shalat Shubuh (menegakkannya), maka dia mendapatkan perlindungan (jaminan) dari Allah". (HR. Muslim).
Dari uraian di atas begitu jelas keutamaan dan kelebihana shalat subuh. Itu dari kacamata Al- Qur`an dan hadis. Bagaimana menurut medis apa fungsi dari shalat subuh itu berukut yang penulis dapatkan info dari yunita beliau merupakan anggota parmasi.
Shalat subuh itu bikin awet muda, kemudian mengurangi resiko migraine (pusing, dll), meningkatkan semangat dan memperbaiki hormones.
Sakit kepala berhubungan dengan waktu tidur. Waktu tidur itu ada batasnya jam 22.00-03.00 sebaiknya. Kemudian shalat subuh ataupun shalat dini hari, baik untuk mengatur aliran darah dalam tubuh, agar lancar. Sehingga saraf-saraf di otak pun tidak ada yang berlebit/tabrakan. Jika awet muda sipmpelnya karena sirkulasi darah bekerja baik dari gerakan shalat, apalagi shalat subuh yang harus bangun pagi banget kan malah memperbaiki rasa malas. Dengan malas kan bisa menjadikan cepet tua, dikarenakan aktivitas tubuhnya bekerja kurang proportional.
Ini merupakan beberapa argumentasi dari shalat subuh berjamaah Minggu ke-3. Cukup jelas. Mungkin ada satu pertanyaan, kenapa harus Minggu ke-3 dari setiap bulan? Penentuan Minggu ke-3 tidaklah memiliki arti penting. Mengambil Minggu ke-3 ini dikarenakan jika setiap Minggu diadakan shalat subuh serjamaah dengan model ada cermah dan ramah tamah tentu akan membuat berat sebagian masyarakat. Minggu ke-3 hanyalah mengambil momen tertentu aja, namun dalam perakteknya shalat subuh berjamaah alhamduliallah di mesjid inti iman pada setiap harinya penuh oleh jamaah bahkan sampai meluber ke teras. Dari sini terliahat penetapan Minggu ke-3 momen untuk berkumpul, dan bersilaturrahmi serta saling menginatkan.

  1. Langkah-Langkah Dalam Menerapkan Tradisi Shalat Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Dari adanya argumentasi Al-Quran dan Hadis di atas. Mesjid Inti Iman membaut formulasi ulang yang dilakukan pada saat suhub berjamaah. Berikut format teradisi ini.
  1. Mengumumkan dan mengingatkan kepada para jamaah untuk menghadiri agenda subuh berjamaah minggu ke-3. (diumumkan ketika pengumuman shalat jumat pada minggu ke-3).
  2. Mengundan penceramah dan imam untuk mengisi pengajian.
  3. Memulia qiyamul lail 1 juz, pada jam 03.00 sampai menjelang subuh (ini merupakan teradisi yang baru minggu ini pada bulan Mei 2017 yang di tambah)
  4. Shalat subuh bejama`ah (Imam adalah penceramah yang bertugas setelah shalat subuh)
  5. Ceramah seputar keilmuan-keilmuan agama. (jamaah duduk dan mendengarkan penceramah)
  6. Membuka pertanyaan bagi jamaah
  7. Ramah tamah.

  1. Kesimpulan.
Indonesia merupakan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Namun bagaimana carannya terbentuk penduduk muslim yang begitu banyak itu menjadi seorang mu`min bukan hanya muslim,  maka melauli Shalat subuh berjamaah ini masyarakat mengharapkan agar terbentuknya masyarakat yang ideal, masyarakat yang Allah augrahkan keamanan dan kenyamana serta berkah. Karena subuh itu memiliki keistimewaan yang begitu luar biasa.








[1] Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`An, Tafsir Ilmu Waktu Dalam Prespektif Al-Qur`An Dan Sains, (Jakarta: lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`An Dengan Biaya DIPA Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur`An Tahun 2013). Hlm. 10.
[2] Dosen PTIQ Dan Sekaligus Pengasuh Pesantren Nurul Qur`An Yang Berada Dekat Dengan Mesjid Inti Iman Yang Menjadi Tempat Penelitian Penulis.
[3] Mahasiswa PTIQ Dan Mahasantri Pesantren Nurul Qur`An
[4] Dosen Ptiq Dan Sekaligus Pengasuh Pesantren Elsiq, Beliau Merupakan Pemeberi Materi Kaidah Penafsiran Di Kelas Penulis.
[5] Penerima Setoran Hafalan Di Pesantren Nurul Qur`An.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

arsip

al Bagowi