Shalat Subuh
Berjamaah Pada Minggu Ke-3
Oleh: Ayub Gunawan
- Pendahuluan
Al-Qur`an
mengingatkan akan kerugian kehidupan manusia di alam fana dalam Perspektif
waktu, kecuali bagi orang yang mengisi dan menjalankan kehidupan dengan beriman
dan beramal saleh, saling nasihat-menasihati dalam kebaikan dan kesabaran.
Dalam dunia akademik, waktu dikenal sebagai besaran fisika seperti halnya suhu
yang dirasakan sebagai panas atau dingin. Bisa juga seperti massa yang
dirasakan berat atau ringan, atau seperti ukuran ruang, panjang atau volume
yang dengannya kita paham ukuran besar atau kecil. Waktu tidak bisa dilihat,
didengar dan dirasakan, tetapi waktu senantiasa menyertai kehidupan. Tidak
seperti besaran fisika lainnya, waktu terus berubah dan tidak bisa dihambat. Manusia
tidak bisa mengendalikan waktu, namun semetinya kita bisa memanfaatkannya.
Kalau kita tidak bisa memanfaatkannya, waktu lepas begitu saja dan manusia akan
menjadi manusia yang rugi.
Mencari
makna atas nama-nama waktu dan peristiwa dalam Al-Qur`an merupakan sesuatu yang
menarik dalam perspektif sains dan spiritualitas. Dalam Al-Qur`an, Allah
menyebutakan banyak nama waktu di dalam sejumlah ayat-Nya, ada yang bersifat
umum dan ada yang bersifat khusus.
Isyarat
waktu dalam Al-Qur`an dapat dikelompokkan sebagai berikut.[1]
Pertama, waktu di dalam
pengertian tanpa batas yakni seperti Sa`ah atau saat/waktu (al-An`am/6: 31,
at-Taubah/9:117).
Kedua,
waktu dalam pengertian di dalam bilangan
jumlah tertentu/ siklus semacam `am, sinin, dan sanah atau tahun (at-Taubah/9:
126, Yunus/10: 5, al-Hajj/22: 47), syahr atau bulan (al-Baqarah/2: 185), dan
yaum atau hari (as-Sajdah/32: 5). Di dalam hal ini, Al-Qur`an tidak
menyembutkan adanya waktu yang disebutkan dengan minggu/pekan.
Ketiga,
waktu
yang merupakan bagian dari fenomena malam atau siang hari, seperti disebutkan
dengan istilah-istilah ibkar, gadah, bukrah dan isyraq atau pagi (Ali Imran/3:
41, al-An`am/6: 52, Maryam/19: 11 dan Sad/38: 18), `asyiyi dan asal atau petang
(Ali `Imran/3: 41, al-A`raf/7: 205), dan al-`asr atau sore (al-`Asr/103:1).
Keempat,
waktu yang merupakan bagian dari
sebutan-sebutan yang menunjukan lebih kecil dari penggalan waktu yang masuk ke
dalam kategori ketiga, misalnya yaitu tarafayin- nahar atau tepi siang (Hud/11:
114) zulafamminal-lail atau bagian awal malam, liduluqisy-syamsy atau
tergelincir atau gelap malam (al-Isra/17: 78), gasaqil-lail atau gelap malam (al-Isra/17:
78), serta fajr, an-nujum, dan sahar atau menjelang pagi (al-Baqarah/2: 187,
at-Tur/52: 49, dan al-Qamar/54:34)
Kelima,
bagian-bagian
waktu yang dikaitkan dengan nama salat, semcam ad-duha atau sepenggalan naik
(ad-Duha/93: 1), al-`asr atau sore (al-`Asr/103: 1) dan subh atau subuh/pagi
(at-Takwir/81: 18).
Keenam, waktu relatif,
diantaranya dalam Surah al-Hajj/22: 47 dan Fatir/35: 5 mengungkapkan “seribu
tahun di bumi” sebanding dengan “sehari di sisi Allah”.
Memang
kita tidak akan pernah mampu mengendalikan waktu, namun semesetinya kita bisa
memanfaatkannya. Jika kita tidak bisa memanfaatkannya maka waktu akan lepasa
dan meninggalkan kita begitu saja tanpa kesan apapun disanalah kita menjadi
orang yang paling merugi. Maka menjadi sangat penting untuk memperhatikan waktu
itu.
Subuh
adalah salah satu waktu yang diisyaratkan dalam Al-Qur`an. Subuh atau waktu
subuh, menarik untuk kita bahas. Waktu subuh adalah waktu pergantian malam dan
siang. Waktu dimana kita sedang menikmati istirahat saat udara dingin, di atas
kasur yang empuk dan selimut yang hangat. Waktu dimana kita benar-benar sedang
terlelap, tidak terjaga dan kurang wapada.
Allah
SWT memerintahkan kita untuk bangun dan menegakkan shalat di waktu subuh,
sebagaimana diisyaratkan dalam Al Qur`an surat al-Israa, 17: 78. Shalat subuh
juga merupakan satu diantara shalat yang wajib lima waktu yang mempunyai
kekhususan dari shalat lainnya dan mempunyai keutamaan yang luar biasa. Pada
saat inilah pergantian malam dan siang dimulai. Pada saat ini pula malaikat
malam dan siang berganti tugas (HR. Bukhari).
Kekhususan
dan keutamaan shalat subuh ini menjadikan penulis ingin meneliti lebih dalam
tentang fenomena shalat subuh yang ada di masyarakat. Ada satu masjid yang
menjadi penelitian penulis, yaitu masjid yang bernama Inti Iman. Di sana
terdapat teradisi yang baru di mulai bulan pada bulan Januari 2017, pada setiap
hari Ahad di Minggu ke-3, sekitar 5 bulan telah berjalan. Yaitu teradisi shalat
subuh berjamaah yang di dalam diisi dengan kegiatan-kegitan yang positif.
Sehingga kegiatan ini mengbangun masyarakat yang memili jiwa dan mental yang
kuat.
Penulis
memperhatikan keutamaan dan kekhususan shalat subuh ini, diantaranya: shalat
subuh salah satu penyebab masuk surga, penghalang masuk neraka, berada di dalam
jamian Allah SWT, dihitung seperti shalat semalam penuh, disaksikan para
malaikat dan masih banyak keutamaan dan kekhususan yang lain. Bahkan ditinjau
dari kacamata kesehatan shalat subuh itu memiliki keutamaan tersendiri.
Dengan
demikian, atas dasar keutamaan shalat subuh, penulis ingin mengangkat tema yang
berkaitan erat dengan shalat subuh pada tataran realitas masyarakat, yang
menjadi kajian konsens Living Qur`an and Hadis. Khususnya fenomena shalat subuh
yang terlah menjadi teradisi di masjid Inti Iman.
- Menganalisa
Shalat Subuh Berjamah Minggu ke-3
- Sejarah
Mulainya Teradisi Shalat Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Indonesia
merupakan negara yang mempunya penduduk muslim terbanyak di dunia. Dari ujuang
timur hingga ujung barat. Dan juga sejarang membuktikan kerajaan-kerajan yang
pernah ada di Indonesia dan mempunyai kekutaan besar adalah kerajaan-kerjaan
Islam. Setelah masa kerjaan kemudian masa penjajahan, pada masa ini pun Islam
sangat penting peranannya untuk kemerdekaan dari penjajah.
Ketika
ada satu bagain tubuh yang terluka maka seluruh tubuh akan berasakan sakit.
Itulah yang di bangun dalam mind set islam. Sehingga terbentuk ukuah islamiah
yang begitu mendalam. Pada 27 September 2016, umat Islam yang ada di Indonesai
merasa dinodai oleh salah satu Gubernur sehingga menimbulkan reaksi yang kita
kenal dengan aksi bela islam yaitu, rangkaian aksi unjuk rasa yang diadakan di Indonesia,
terutama di kota jakarta sebagai reaksi atas pernyataan Gubernur jakarta,
Basuki Tjahaja Purnama yang mengeluarkan pernyataan yang dianggap menistakan
agama dalam kunjungan kerjanya di kepulauan seribu. Ada yang mendukung dan ada pula yang mengecam.
Namun jauh dari itu uniknya melalui reaksi itu ada satu fenomena yang membuat
umat Islam menjadi bangkit untuk bersatu. Penulis memeperhatikan fenomena yang
membuat umat islam bersatu satu dia antaranya yaitu Shalat subuh berjamaan.
Setelah beberapa kali di adakan aksi bela islam, banyak mesjid-mesjid untuk
mengadakan acara atau doa bersama untuk keamanan dan kedamaian di indonesia
ini.
Satu
diantara beribu-ribu mesjid yaitu Mesjid Inti Iman. Pada tahun baru Islam Hari
Sabtu Tanggal 31 Desember 2016 diadakan pengajian untuk menyambut tahun baru
Islam di Mesjid Inti Iman, yang di isi oleh ust. DR. H. Ali Nurdin, MA.[2]
Pada saat itu beliau menghimbau agar Mesjid Inti Iman mengadakan Shalat Subuh
Berjamaah yang diisi dengan ceramah dah ramah tamah, pada saat itu ramai sekali
mesjid-mesjid mengadakan Subuh berjamaah yang disi dengan ceramah.
Maka
setelah terwujudnya Shalat Subuh Berjamaah yang kemudian diisi dengan ceramah
dan ramah tamah maka hal ini menjadi teradisi tersendiri bagi Mesjid Inti
Iman pada kemudiannya acara ini di
rutinkan pada setiap hari Minggu pada Minggu ke 3.
Menurut
salah satu dari jamaah Mesjid Inti Iman, yang bernama Sofwan Salahuddin[3].
Acara semacam memiliki tujuan sebagai berikut,
1.
Memakmurkan mesjid dengan Ibadah
Horizontal dan Vertikal
2.
Membangkitkan rasa kebersamaan
dalam Masyarakat
3.
Mengingatkan pentingnya subuh
Berjamaah.
Dengan
beberapa tujuan ini maka akan terwujud masyarakat ideal.
- Deskipsi
subuh berjamaah dan filosifinya
Deskripsi
teradisi ini, sebenarnya sama saja dengan Shalat Subuh Berjamaah yang sering
dilakukan oleh Masyarakat luas yaitu mengundang para jamaah untuh hari
pengajian subuh dan DKM memanggil penceramah untuk mengisi pengajian setelah
subuh seputar kajian Al-Qur`an dan Hadis yang mampu mengingatkan kita akan pentingnya
menyikapai kehidupan di alam yang fana ini. Dan juga masyarakat diberi kesempatan untuk berpartisipasi dalam
menyediakan konsumsi yang akan di hidangkan pada akhri acara. Maka secara
otomatis mesjid itu menjadi Makmur dan sy`ar agama menjadi tumbuh. Karena,
teradisi ini tidak hanya di peruntukan untuk orang tua saja, namum bahkan orang
tua dihimbau untuk membawa anak-anak meraka dalam teradisi ini. Baik anak
balita, remaja, orang dewasa dan bahkan orang yang telah lanjut usia pun
berkumpul dan berbondong-bondong menuju mesjid pasa waktu subuh.
Dengan
format seperti ini, sudah tergambar dengan nyata filosofi dari setiap
formulasi. Di antarannya. Terbentuknya menjadikan masyarakat yang أقيموا الصلاة وأتوا الزكاة menurut ust. DR. H. Ahmad Husnul Hakim
IMZI, S.Q., M.A.[4] potongan
ayat ini bukan memberitahun tentang rukun Islam, namun potongan ayat ini yaitu
menggabarkan manusia yang sempurna yaitu manusia yang memiliki peribada yang
individual dan manusia yang memiliki peribadai yang sosial. Individual ketika
menghadap Allah dan sosial ketika berhadapan dengan masyarakat. Inilah satu
diantara filosofi teradisi ini.
Dilihat
dari terdisi ini dilakukan oleh lapisan masyarakat yang memiliki latar belakang
yang berbeda, ada sebagai pegawai negeri, ibu rumah tangga, asisten rumah
tangga, para asatid dan asatizah, anak-anak serta parasantri. Tentunya akan
menjadikan momen penting untuk menjadi media dan laboratorium pendidikan serta
penempaan mental. Mental yang kuat dan berjiwa besar.
Antusias
masyarakat dalam melestariakn tradisi ini, selain ingin menjalin silaturrahmi
juga karena mereka ingin menjadi orang-orang yang sehat rohani dan jasmaninya.
Karena manfaat dari shalat subuh berjamahan tidak hanya terbatas pada kesahatan
rohani namun juga kesehatan jasmani yang akan di jelaskan pada keterangan
argumentasi Shalat subuh berjamaah.
Taggapan
dari masyarakat terkait teradisi ini sangatlah baik. Terlihat efek dari shalat
subuh berjamaah, yaitu sesama tetangga dan satu komplek itu sangat harmonis dan
tidak kalah penting yaitu setiap Shalat subuh meskipun bukan minggu ke 3, itu
mesjid Inti Iman penuh dengan jamaah bahkan kadang sampai tidak muat di dalam
mesjid sehingga harus menggunakan teras mesjid.
- Argumentasi Penerapan Tradisi Shalat
Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Shalat
merupakan salah satu rukun Islam setelah syahadatain. Dan amal yang paling
utama setelah syahadatain. Barangsiapa menolak kewajibannya karena bodoh maka
ia harus dipahamkan tentang wajibnya shalat tersebut. Barangsiapa tidak
meyakini tentang wajibnya shala (menentang) maka dia telah kafir. Barangsiapa
yang meninggalkan shalat karena menggampangkan atau malas, maka wajib baginya
bertaubat kepada Allah. Rasulullah bersabda: “Pemisah diantara kita dan mereka
(orang kafir) adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya maka sungguh dia telah
kafir”.
Shalat
dalam Islam mempunyai kedudukan yang tidak disamai oleh ibadah-ibadah lainnya.
Ia merupakan tiangnya agama ini, yang tentunya tidak akan berdiri tegak kecuali
dengan adanya tiang tersebut. Shalat adalah kewajiban kali diwajibkan Allah dan
nantinya akan menjadi amalan pertama yang dihisab diantara amalan-amalan
manusia serta merupakan warisan Rasulullah.
Dari
lima waktu shalat yang ada tentunya dari setiap waktu-waktu yang diatur Allah
itu memiliki kelebiahan dan keutamaan masing-masing. Dalam penelitian ini,
penulis ingin memperhatiakan lebih dalam tentang satu waktu dari lima waktu
yaitu shalat subuh. Melalui penelitian sederhana yang menjadi objek nya yaitu
teradisi shalat subuh berjamaah minggu ke-3 di Mesjid Inti Iman yang berada di
perumahan Inti Iman Persada, Pamulang, Tanggerang Selatan. Penulis menemukan
beberapa pandangan tentang shalat subuh berjamaah ini. Dikarnakan penulis
bertanya kepada beberapa orang yang memiliki latar belakang yang berbeda. Beberapa
argumentasi masyarakat yang penulis dapatkan.
Menurut
ust. Saiful Arif,[5] “Shalat
Subuh berjamaah itu merupakan salah satu bentuk syiar agama”. Sehingga orang
yang menjalankan shalat subuh berjamaah itu dia telah memiliki satu dantara
banyaka ciri orang yang memiliki ketakwaan hati. Syiar diagungkan sebagai
manifestasi rasa takwa. Firman-Nya: “Demikianlah (perintah Allah). Dan
barangsiapa mengagungkan syiar, Maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan
hati” (QS al-Hajj [22]: 32)
Ustadz
Nurmawan, S.Si. ketika beliau mengisi ceramah pada Acara Shalat subuh berjamaah
tepatnya pada tanggal 16 April 2017 menerangkan begitu lengkap tentang shalat subuh dan
sekaligus mewakili argumentasi urgensinya Shalat Subuh berjamaah,
Shalat
Shubuh Mengandung Keagungan dan Keistimewaan
Waktu
shubuh maka Allah Subhanahu Wa Ta'ala bersumpah, dengan adanya sumpah berarti ada
keagungan dan keistimewaan didalam waktu shubuh (fajar). Allah Subhanahu Wa
Ta'ala berfirman,
وَالْفَجْرِ
“Demi
fajar.”_ (QS. Al-Fajr : 1).
Berikut
keagungan dan keistimewaan didalam waktu shubuh (fajar) :
Pertama,
Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, mendapat pahala separoh malam, yaitu
shalat isya' atau shalat malam (taraweh), sedangkan shalat shubuh mendapatkan
pahala sepanjang malam.
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ قَامَ مَعَ
الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ
“Barangsiapa
yang shalat (tarawih) bersama imam hingga berpaling selesai, maka ia dicatat seperti
melakukan shalat sepanjang malam.” (Shahih, HR. Ahmad, Tirmidzi, Irwa'ul
Ghalil: 447 al-Albani).
Demikian
pula pahala yang didapat bila shalat subuh bersama Imam. Sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
مَنْ صَلَّى
الصُّبْحَ فِي جَمَاعَةٍ فَكَأَنَّمَا صَلَّى اللَّيْلَ كُلَّهُ
"Barangsiapa
shalat shubuh berjamaah maka seakan ia shalat sepanjang malam.”_(HR. Muslim:
656).
Kedua,
Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, setiap malam Allah Subhanahu Wa Ta'ala turun ke bumi,
disepertiga malam terakhir memberikan ampunan.
Sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
يَنْزِلُ رَبُّنَا تَبَارَكَ وَتَعَالَى
كُلَّ لَيْلَةٍ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا حِينَ يَبْقَى ثُلُثُ اللَّيْلِ
الْآخِرُ يَقُولُ مَنْ يَدْعُونِي فَأَسْتَجِيبَ لَهُ مَنْ يَسْأَلُنِي
فَأُعْطِيَهُ مَنْ يَسْتَغْفِرُنِي فَأَغْفِرَ لَهُ
"Allah
Tuhan kita turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam
yang terakhir dan berfirman : Barang siapa yang berdoa kepadaKu Aku akan
kabulkan. Barang siapa yang meminta kepadaKu Aku akan beri. Barang siapa yang
meminta ampunan (beristighfar) kepadaKu Aku akan ampuni." (H.R Al-Bukhari
dan Muslim).
Ketiga,
Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, menjadi cahaya dan penerang di hari
kiamat.
Allah Subhanahu Wa Ta'ala_ berfirman,
يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَىٰ نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ
بُشْرَاكُمُ الْيَوْمَ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ
فِيهَا ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
"(yaitu)
pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang
cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, (dikatakan
kepada mereka): "Pada hari ini ada berita gembira untukmu, (yaitu) surga
yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, yang kamu kekal di dalamnya. Itulah
keberuntungan yang besar". (QS. Al-Hadid : 12).
Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman,
يَوْمَ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ
وَالْمُنَافِقَاتُ لِلَّذِينَ آمَنُوا انْظُرُونَا نَقْتَبِسْ مِنْ نُورِكُمْ
قِيلَ ارْجِعُوا وَرَاءَكُمْ فَالْتَمِسُوا نُورًا فَضُرِبَ بَيْنَهُمْ بِسُورٍ
لَهُ بَابٌ بَاطِنُهُ فِيهِ الرَّحْمَةُ وَظَاهِرُهُ مِنْ قِبَلِهِ الْعَذَابُ
"Pada
hari ketika orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan berkata kepada
orang-orang yang beriman: "Tunggulah kami supaya kami dapat mengambil
sebahagian dari cahayamu". Dikatakan (kepada mereka): "Kembalilah
kamu ke belakang dan carilah sendiri cahaya (untukmu)". Lalu diadakan di
antara mereka dinding yang mempunyai pintu. Di sebelah dalamnya ada rahmat dan
di sebelah luarnya dari situ ada siksa"._ (QS. Al-Hadid : 13).
Sabda
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
عن بُريدَة – رضي
الله عنه – ، عن النبيِّ – صلى الله عليه وسلم – ، قَالَ : (( بَشِّرُوا
المَشَّائِينَ في الظُّلَمِ إلى المَسَاجِدِ بِالنُّورِ التَّامِّ يَوْمَ
القِيَامَةِ)) رواه أبُو دَاوُدَ وَالتِّرمِذِيُّ .
Dari
Buraidah radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau
bersabda, “Berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berjalan di dalam
kegelapan menuju masjid-masjid, bahwa ia akan mendapatkan cahaya sempurna pada
hari kiamat.” (HR. Abu Daud, no. 561; Tirmidzi, no. 223. Al-Hafizh Abu Thahir
mengatakan bahwa hadits ini shahih).
Di
dalam hadist yang lain Nabi Shallallahu
‘Alaihi Wasallam bersabda,
مَنْ مَشَى فِي
ظُلْمَةِ اللَّيْلِ إِلَى الْمَسْجِدِ إِلَى صَلَاةٍ لَقِيَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ
بِنُورٍيَوْمَ الْقِيَامَة
"Barangsiapa
berjalan di kegelapan malam menuju masjid, kelak di hari kiamat menghadap Allah
-azza wa jalla- dengan cahaya.” (HR. Thabrani dengan sanad yang shahih).
Cahaya
dan penerang di syirot bagi orang munafiq hilang, maka mereka bersandar ke
orang mukmin dan oleh orang mukmin suruh kembali ke Allah karena yang
memberikan cahaya hanya Allah tetapi mereka tidak mendapatkan cahaya. Ketahuilah
bahwa cahaya itu adalah amalan kita saat di dunia dan salah satu cahaya yaitu
shalat shubuh.
Keempat,
Keagungan dan Keistimewaan lain shalat bardain, yaitu shalat azhar dan shubuh,
masuk surga.
Sebagaimana
sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
مَنْ صَلَّى الْبَرْدَيْنِ دَخَلَ
الْجَنَّةَ
"Barangsiapa
mengerjakan shalat pada dua waktu dingin (Shubuh dan ashar), maka dia akan
masuk surga." (HRBukhori 574 & Muslim 635 ).
Kelima,
Keagungan dan Keistimewaan lain, shalat shubuh lebih baik dunia dan isinya.
Banyak
orang tidak mengetahuinya ternyata ada amalan ringan dengan pahala yang besar
ketika fajar. Sebagaimana sabda Nabi
Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا
وَمَا فِيهَا
"Dua
rakaat (sholat sunah) fajar lebih baik daripada dunia dan
seisinya." (HR Muslim 725).
Keenam,
Keagungan dan Keistimewaan lain, shalat shubuh ketika saat adzan, adalah waktu
mendapatkan syafaat.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:
إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُوْلُوْا
مِثْلَ مَا يَقُوْلُ، ثُمَّ صَلُّوْا عَلَيَّ، فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَيَّ
صَلاَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا، ثُمَّ سَلُوْا اللهَ لِي
الْوَسِيْلَةَ، فَإِنهَّاَ مَنْزِلَةٌ فِي الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِي إِلاَّ
لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللهِ وَأَرْجُوْا أَنْ أَكُوْنَ أَنَا هُوَ، فَمَنْ سَأَلَ
لِي الْوَسِيْلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ
“Apabila
kalian mendengar adzan maka ucapkanlah sebagaimana yang diucapkan muadzin,
kemudian bershalawatlah untukku, karena siapa yang bershalawat untukku niscaya
Allah akan bershalawat untuknya sepuluh kali. Kemudian ia meminta kepada Allah
al-wasilah atasku, karena al-wasilah ini merupakan sebuah tempat/kedudukan di
surga, di mana tidak pantas tempat tersebut dimiliki kecuali untuk seseorang
dari hamba Allah dan aku berharap, akulah orangnya. Siapa yang memintakan
al-wasilah untukku maka ia pasti beroleh syafaat.” (HR. Muslim no. 847).
Ketujuh,Keagungan
dan Keistimewaan lain, yaitu sedekah shubuh.
Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda yang
artinya, "Tidak satu hari pun di mana pagi harinya seorang hamba ada
padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya
berkata, "Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak", dan
lainnya berkata, "Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit (bakhil)".
(HR.
Imam Bukhari dan Imam Muslim dari Abu Hurairah, Shahih Bukhari: 1442 dan Shahih
Muslim: 1010).
Kedelapan,
Keagungan dan Keistimewaan lain, kegiatan shubuh disaksikan oleh malaikat,
sehingga do'a lebih mustajab.
Allah
Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,
إِنَّ قُرْآَنَ
الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا
“Sesungguhnya
shalat Shubuh itu disaksikan (oleh malaikat)”. (QS. Al-Isra’ : 78)
Kesembilan,
yang terakhir dari Keagungan dan Keistimewaan shalat shubuh, mendapat
berlindungan dari Allah.
Sabda
Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam,
من صلى الصبح فهو
في ذِمَّةِ الله ( رواه مسلم )
"Barang
siapa yang shalat Shubuh (menegakkannya), maka dia mendapatkan perlindungan
(jaminan) dari Allah". (HR. Muslim).
Dari
uraian di atas begitu jelas keutamaan dan kelebihana shalat subuh. Itu dari
kacamata Al- Qur`an dan hadis. Bagaimana menurut medis apa fungsi dari shalat
subuh itu berukut yang penulis dapatkan info dari yunita beliau merupakan
anggota parmasi.
Shalat
subuh itu bikin awet muda, kemudian mengurangi resiko migraine (pusing, dll),
meningkatkan semangat dan memperbaiki hormones.
Sakit
kepala berhubungan dengan waktu tidur. Waktu tidur itu ada batasnya jam
22.00-03.00 sebaiknya. Kemudian shalat subuh ataupun shalat dini hari, baik
untuk mengatur aliran darah dalam tubuh, agar lancar. Sehingga saraf-saraf di
otak pun tidak ada yang berlebit/tabrakan. Jika awet muda sipmpelnya karena
sirkulasi darah bekerja baik dari gerakan shalat, apalagi shalat subuh yang
harus bangun pagi banget kan malah memperbaiki rasa malas. Dengan malas kan
bisa menjadikan cepet tua, dikarenakan aktivitas tubuhnya bekerja kurang
proportional.
Ini
merupakan beberapa argumentasi dari shalat subuh berjamaah Minggu ke-3. Cukup
jelas. Mungkin ada satu pertanyaan, kenapa harus Minggu ke-3 dari setiap bulan?
Penentuan Minggu ke-3 tidaklah memiliki arti penting. Mengambil Minggu ke-3 ini
dikarenakan jika setiap Minggu diadakan shalat subuh serjamaah dengan model ada
cermah dan ramah tamah tentu akan membuat berat sebagian masyarakat. Minggu
ke-3 hanyalah mengambil momen tertentu aja, namun dalam perakteknya shalat
subuh berjamaah alhamduliallah di mesjid inti iman pada setiap harinya penuh
oleh jamaah bahkan sampai meluber ke teras. Dari sini terliahat penetapan
Minggu ke-3 momen untuk berkumpul, dan bersilaturrahmi serta saling
menginatkan.
- Langkah-Langkah
Dalam Menerapkan Tradisi Shalat Subuh Berjamaah Minggu Ke-3
Dari adanya
argumentasi Al-Quran dan Hadis di atas. Mesjid Inti Iman membaut formulasi
ulang yang dilakukan pada saat suhub berjamaah. Berikut format teradisi ini.
- Mengumumkan
dan mengingatkan kepada para jamaah untuk menghadiri agenda subuh
berjamaah minggu ke-3. (diumumkan ketika pengumuman shalat jumat pada
minggu ke-3).
- Mengundan
penceramah dan imam untuk mengisi pengajian.
- Memulia
qiyamul lail 1 juz, pada jam 03.00 sampai menjelang subuh (ini merupakan
teradisi yang baru minggu ini pada bulan Mei 2017 yang di tambah)
- Shalat
subuh bejama`ah (Imam adalah penceramah yang bertugas setelah shalat
subuh)
- Ceramah
seputar keilmuan-keilmuan agama. (jamaah duduk dan mendengarkan
penceramah)
- Membuka
pertanyaan bagi jamaah
- Ramah
tamah.
- Kesimpulan.
Indonesia
merupakan negara yang memiliki penduduk muslim terbesar di dunia. Namun
bagaimana carannya terbentuk penduduk muslim yang begitu banyak itu menjadi
seorang mu`min bukan hanya muslim, maka
melauli Shalat subuh berjamaah ini masyarakat mengharapkan agar terbentuknya
masyarakat yang ideal, masyarakat yang Allah augrahkan keamanan dan kenyamana
serta berkah. Karena subuh itu memiliki keistimewaan yang begitu luar biasa.
[1]
Lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`An, Tafsir Ilmu Waktu Dalam Prespektif
Al-Qur`An Dan Sains, (Jakarta: lajnah Pentashih Mushaf Al-Qur`An Dengan
Biaya DIPA Lajnah Pentashihan Mushaf Al Qur`An Tahun 2013). Hlm. 10.
[2]
Dosen PTIQ Dan Sekaligus Pengasuh Pesantren Nurul Qur`An Yang Berada Dekat
Dengan Mesjid Inti Iman Yang Menjadi Tempat Penelitian Penulis.
[3]
Mahasiswa PTIQ Dan Mahasantri Pesantren Nurul Qur`An
[4]
Dosen Ptiq Dan Sekaligus Pengasuh Pesantren Elsiq, Beliau Merupakan Pemeberi
Materi Kaidah Penafsiran Di Kelas Penulis.
[5]
Penerima Setoran Hafalan Di Pesantren Nurul Qur`An.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar